kumpulan hadits


Tekan ctrl  + click salah satu iklan untuk lanjut membaca
 push ctrl + click one of the banners before continue reading 
 







BERLAKU ADIL KEPADA ANAK
3056 حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ أَبِي حَيَّانَ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو حَيَّانَ التَّيْمِيُّ عَنِ الشَّعْبِيِّ حَدَّثَنِي النُّعْمَانُ بْنُ بَشِيرٍ أَنَّ أُمَّهُ بِنْتَ رَوَاحَةَ سَأَلَتْ أَبَاهُ بَعْضَ الْمَوْهِبَةِ مِنْ مَالِهِ لِابْنِهَا فَالْتَوَى بِهَا سَنَةً ثُمَّ بَدَا لَهُ فَقَالَتْ لَا أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مَا وَهَبْتَ لِابْنِي فَأَخَذَ أَبِي بِيَدِي وَأَنَا يَوْمَئِذٍ غُلَامٌ فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمَّ هَذَا بِنْتَ رَوَاحَةَ أَعْجَبَهَا أَنْ أُشْهِدَكَ عَلَى الَّذِي وَهَبْتُ لِابْنِهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بَشِيرُ أَلَكَ وَلَدٌ سِوَى هَذَا قَالَ نَعَمْ فَقَالَ أَكُلَّهُمْ وَهَبْتَ لَهُ مِثْلَ هَذَا قَالَ لَا قَالَ فَلَا تُشْهِدْنِي إِذًا فَإِنِّي لَا أَشْهَدُ عَلَى جَوْرٍ *MUSLIM
Riyadussalihin 342.

Arif Menyelesaikan Konflik Buruh dan Majikan

َقاَل َرُسْوُل اللِه: قََاَل الله َتََعالَََى: َثَلاثلة انا َخْصَمُُهْم َيْوَم القيامة, رَجِل أعطانى ثم غدر, ورجل باع حرا فأكل ثمنه, ورجل استأجر أجيرا فاستوفى منه ولم يعطه أجرا (رواه البخارى)

“Tiga golongan akan menjadi musuhku pada hari kiamat: seseorang yang telah bersumpah dengan namaku kemudian ia khianat; seseorang yang menjual sesamanya (orang merdeka, bukan budak) untuk mengeruk keuntungan; dan seorang majikan yang menerima penuh pekerjaan buruh, tapi ia tak upah selayaknya”

Permasalahan buruh agaknya tak pernah kunjung reda. Ia akan menyita perhatian semua pihak. Malah, tak jarang ia bisa membuat pihak-pihak yang berkepentingan kalang kabut dan sering berujung dengan terhjadinya konlik. Dalam Islam ada beberapa prinsip yang
-Bebas berprofesi.
Hampir semua kitab fiqh salaf mengatakan bahwa pola hubungan buruh
-Tidak membedakan upah lerlaki dan perempuan
-Mendapatkan perlindungan kerja

3. menyelesaikan konflik buruh majikan
Baca fih rakyt 84


KEWAJIBAN MENEGAKKAN KEPEMIMPINAN

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ بَحْرٍ حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَجْلَانَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا كَانَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ قَالَ نَافِعٌ فَقُلْنَا لِأَبِي سَلَمَةَ فَأَنْتَ أَمِيرُنَا (رواه أبو هُرَيْرَةَ)
Artinya: “Diriwayatkan dari Ali bin Bahr dari Hatim bin Ismail dari Muhammad bin Ujlan dari Nafi’ dari Abu Hurairah, sungguh Rasulullah Saw pernah bersabda: jika ada tiga orang dalam berpergian, hendaklah mereka mengankat salah seorang diantara mereka untuk menjadi pemimpinnya. Nafi’ berkata, Kemudian kami berkata kepada Abu Salamah, ‘Engkaulah pemimpin kami.’



Kata   فليؤ مروا  Itu berarti “supaya mereka itu menjadikan pemimpin atau ketua. Jadi hadis itu berarti bahwa kalau ada tiga orang bepergian ke suatu tempat maka mereka harus menjadikan salah satu di antara tiga orang itu menjadi pemimpinnya, yang bertanggung jawab selama bepergian.
Imam Asy-Syaukani menjelaskan bahwa hadis itu menjadi dalil bahwa Allah mensyari’atkan jika jumlah orang mencapai tiga atau lebih maka hendaklah salah seorang di antara mereka dipilih menjadi pemimpin karena pemimpin itu dapat menyelamatkan perselihan yang menyebabkan kehancuran. Tanpa ada kepemimpinan maka setiap orang akan memaksakan pendapatnya dan akan berbuat apa saja yang sesuai dengan hawa nafsunya yang menjadikan mereka rusak. Dengan adanya pemimpin akan dapat dikurangi perselisihan dan dapat digalang persatuan.
Dalam pandangan islam, kepemimpinan adalah amanah Allah yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab oleh mereka yang diber mandate untuk memimpin. Namun dalam realitas kehidupan, menjadi pemimpin formal sering dipandang sebagai peluang yang menguntungkan secara duniawi sehingga tidak sedikit orang berlomba-lomba meraih jabatan untuk menjadi pemimpin. Mereka lupa, bahwa seorang pemimpin sedang memikul amanat yaitu menjadi rujukan semua orang termasuk menyelesaikan sengketa, yang kelak harus dipertanggungjawabkan di dunia dan akherat.
Adanya sebagian orang yang dalam hidupnya suka mencari posisi sebagai pemimpin dari suatu jabatan tertentu meskipun dengan cara yang tidak bermoral dilator belakangi oleh berbagai tujuan. Padahal dalam konteks Islam kita dilarang berambisi atau meminta jabatan. Dalam hadis dijelaskan:
Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan pimpinan, jika kamu memperolehnya dengan meminta (ambisi) kamu akan menanggung sendiri akibatnya, tetapi jika kamu memperolehnya tanpa ambisi, kamu akan mendapat dukungan rakyat. (HR. ABdu Dawud).

Ketika Rasulullah hijrah dan menetap di Madinah bersama kaum muslimin, suatu haris barisan panjang yang terdiri dari para pengendara dan pejalan kaki menuju pinggiran kota dibarengi gemuruh takbir. Rombongan itu ternyata kabilah Ghifar dan Aslam yang dikerahkan Abu Zar (tanpa terkecuali) telah masuk Islam selama beberapa tahun lalu. Mereka mendapat hidayah Allah melalui dakwah Abu Dzar. Khalid Muhammad Khalid mendeskripsikan momentum keislaman mereka dengan kalimat “raksasa garong dan komplotan syetan yang telah beralih menjadi raksasa kebajikan dan pendukung kebenaran”.
Atas peristiwa tersebut, tentu saja Abu Dzar mendapat penghargaan dari Rasul, tetapi tidak dalam bentuk medali kesetiaan atau bintang tanda jasa atau sejenisnya. Penghargaan kepada Abu Dzar diberikan Rasul melalui sabdanya: “Tak pernah lagi dijumpai di bawah langit ini orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar…”.
Penghargaan Rasul kepada Abu Dzar itu adalah indicator bahwa kebenaran telah menjadi prinsip hidup Abu Dzar. Meski demikian, tidak berarti Rasul akan mentolerir dan mengamini semua sikap dan permintaan Abu Dzar. Ini terbukti ketika Abu Dzar meminta kepada Rasul untuk diangkat menjadi salah seorang gubernur. Dengan tegas Rasul menjawab: “Hai Abu Dzar, sesungguhnya aku telah melihat keadaan dirimu yang lemah. Sesungguhnya aku cinta padamu sebagaimana aku cinta pada diriku sendiri. (HR Bukhari).
Hadis ini setidaknya memberikan dua pelajaran (‘ibrah) penting bagi kita. Pertama, memimpin merupakan suatu tugas yang amat berat dan tidak cukup hanya bermodalkan ketinggian iman., kelurusan sikap dan keluhuran akhlak. Modal ini harus diikuti secara proporsional oleh kemampuan dan potensi pendukung lainnya. Kedua, kepemimpinan merupakan suatu tanggung jawab yang diamanahkan, bukan diminta apalagi direbut dengan berbagai cara.


 MENGALAH SEBAGAI BENTUK KEARIFAN
حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ مُكَرِّمٍ الْعَمِّيُّ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ قَالَ حَدَّثَنِي سَلَمُ بْنُ وَرْدَانَ اللَّيْثِيُّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَهُوَ بَاطِلٌ بُنِيَ لَهُ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بُنِيَ لَهُ فِي وَسَطِهَا وَمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ بُنِيَ لَهُ فِي أَعْلَاهَا وَهَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ حَسَنٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ سَلَمَةَ بْنِ وَرْدَانَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ



Artinya: “Barang siapa menghindari pertengkaran sementara dia berada di pihak yang salah, maka kelak akan dibangunkan untuknya sebuah istana di dasar surga. Barang siapa menghindari pertengkaran (konflik) padahal dia berada di pihak yang benar, maka kelak akan dibangunkan untuknya sebuah istana di dasar surga Barang siapa mampu mempercantik akhlaknya, maka kelak akan dibangunkan untuknya sebuah istana di surga.

Wahb bin Munabbih berkata: “Dalam kitab Taurat terdapat 27 nasihat salah satunya berisi keterangan bahwa barang siapa yang mampu menahan amarahnya, maka dia akan berada di sisi Allah”.
Dalam  kehidupan social, masyarakat jawa menurut Franz Magnis Suseno, memiliki kaidah dasar yang mempengaruhi relasi _egara mereka, yakni prinsip rukun dan hornat. Kedua prinspi ini mengacu pada tujuan social masyarakat Jawa, yakni tujuan keselarasan hidup berupa terciptanya keselarasan hidup berupa terciptanya kondisi mayarakat tanpa konflik, tanpa gejolak, menerima dan menaruh hormat pada individu-individu sesuai dengan posisi social yang ditempatinya.
Prinsip keselarasan dalam hidup selalu menganjurkan untuk tidak mengembangkan ambisi dan persaingan dengan cara-cara yang tidak elegan. Adagium Jawa “ngono yo ngono, ning ojo ngono” merupakan dasar berpijak dalam mengendalikan diri dari tindakan yang bisa menggannggu keselarasan _egara. Dalam bermasyarakat, ambisi, persaingan, kelakuan kurang sopan dan keinginan untuk mencapai kepentingan pribadi merupakan sumber ketidakharmonisan social yang harus dicegah.
Dalam masyarakat Jawa konflik sangat dihindari dari pergaulan social. Kalaupun harus terjadi fenomena konflik dalam masyarakat jawa berlangsung melalui beberapa tahap. Pertama, orang jawa akan mengalah (ngalah) terlebih dahulu. Wong ngalah gedhe wekasane (orang yang mengalah akan mendapat ganjaran yang besar) merupakan prinsip yang pertama kali diterapkan oleh masyarakat Jawa ketika dia dihadapkan pada situasi yang mengharuskan dia berkonflik dengan orang lain. Hal ini dilakukannya sambil berharap agar orang lain tersebut menyadari, memahami dan mengerti apa yang diinginkannya. Jika dengan ngalah, orang lain tidak mau menyadari juga, maka dia akan melakukan tindakan yang kedua yaitu ngalih atau menghindari ketegangan yang memuncak.
Etika Islam mengajarkan agar kita menjauhi koflik dengan jalan menahan amarah, dalam hadis Rasulullah bersabda:
“Orang kuat bukanlah orang yang mampu memenangkan gulat, tetapi yang disebut orang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah”.

Madu dengan Segala Khasiatnya
           
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَاللَّفْظُ لِابْنِ الْمُثَنَّى قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي الْمُتَوَكِّلِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ أَخِي اسْتَطْلَقَ بَطْنُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْقِهِ عَسَلًا فَسَقَاهُ ثُمَّ جَاءَهُ فَقَالَ إِنِّي سَقَيْتُهُ عَسَلًا فَلَمْ يَزِدْهُ إِلَّا اسْتِطْلَاقًا فَقَالَ لَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ جَاءَ الرَّابِعَةَ فَقَالَ اسْقِهِ عَسَلًا فَقَالَ لَقَدْ سَقَيْتُهُ فَلَمْ يَزِدْهُ إِلَّا اسْتِطْلَاقًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَ اللَّهُ وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيكَ فَسَقَاهُ فَبَرَأَ

Artinya: “Bahwasanya seorang lelaki _egara kepada Nabi saw, lalu berkata: “Saudaraku mengeluh kesakitan perutnya, maka berkatalah Nabi: “Berilah madu”. Kemudian orang itu _egara lagi pada hari keduanya. Maka berkatalah Nabi:” Berilah kepadanya madu”. Kemudian dia _egara lagi pada hari ketiga, Nabi berkata pada, berilah kepadanya madu”. Kemudian dia _egara kepada Nabi lalu berkata: “Saya telah laksanakan, maka Nabi menjawab: “Allah telah benar, perut saudaramu yang dusta, berilah kepadanya madu.” Maka diapun mememberi madu padanya lalu diapun sembuh.”

Madu adalah minuman yang sudah tidak asing lagi bagi manusia dimana-mana. Minuman yang manis dan berbau sedap itu adalah merupakan sumbangan yang tak ternilai dari sebangsa serangga lemah, tetapi sangat besar jasanya. Lebah adalah sejenis serangga yang hidupnya berkelompok dibawah pimpinan seekor ratu lebah yang sangat ditaati oleh rakyatnya. Ratu lebah mempunyai rakyat sampai 50.000 ekor atau lebih. Dimana saja sang ratu berkenan tinggal, rakyatnya dengan patuh mengikutinya. Itulah sebabnya maka orang yang mau memelihara lebah, ratunya yang ditangkap terlebih dahulu, lalu ditaruh pada tempat yang telah disediakan. Maka berkumpullah semua masyarakat lebah disitu. Dari segi persatuan, lebah memang patut di contoh.
            Dalam masyarakat lebah telah ada pembagian tugas yang sangat teratur. Bila sang ratu mau dikawini, terbanglah ia keudara. Pejantan yang paling kuat terbang, itulah yang berhasil mengawini ratu.Ratu kemudian bertelur. Ada kelompok yang membangun sisiran sarang, tempat ratu bertelur.Ada juga kelompok pengaman yang bertugas menjaga sarang. Kemudian yang lainnya bertugas keluar mengisap sari pati bunga. Jadi lebah memakan makanan yang sangat bersih, yaitu dari bunga tadi. Seekor lebah bisa menghasilkan satu liter madu, setelah 80.000 kali keluar mengisap madu bunga-bungaan.Kalau setiap kali keluar,terbangnya mencapai setengah kilometer, berarti pulang pergi dia terbang satu kilometer. Sehingga yang 80.000 kali keluar akan berjumlah jarak yang ditempuhnya 80.000 kilometer. Berarti jarak yang sekian jauh sudah mencapai dua kali keliling dunia. Demikian gigihnya sang lebah mengumpulkan madu, bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi untuk manusia. Dia tidak mengharapkan imbalan jasa atas segala usahanya itu,tidak pula meminta ucapan terima kasih.
Pernahkah terlintas dalam hati anda untuk bekerja yang lebih bernilai dari karya sang lebah si serangga lemah ? Bagi orang yang menyadari begitu tinggi pengorbanan lebah bagi keberuntungan hidup manusia, maka tidaklah dia akan mau kalah dalam mengorbankan sesuatu untuk kepentingan ummat. Pada mulanya madu itu disiapkan untuk anak-anaknya.
            Ada lagi keunikan lebah yang lain,dia tidak menyengat kalau tidak diganggu. Kalau ada yang mengganggu, maka serentaklah mereka melawan dengan penuh keberanian. Lebah kalau sudah menyengat sekali, dia tidak menyengat lagi, karena sengatnya dia tinggalkan.
            Bila lebah hinggap disuatu bunga, dia sangat berhati-hati, dijaganya agar tangkai bunga tidak sampai patah, malah sehelai daunpun takkan sampai gugur. Dia betul-betul mencari penghidupan dengan tidak merugikan orang lain. Umpamanya semua manusia demikian, alangkah amannya kehidupan didunia ini. Satupun takkan ada yang merasa teraniaya.
            Bukan saja tidak merugikan,tetapi lebah malah mendatangkan  imbalan yang tak ternilai  bagi bunga yang dihinggapi. Bilamana serbuk sari pada bunga jantan telah masak, maka dipindahkannyalah serbuk sari tersebut  kepada kepala putik, terjadilah perkawinan antara bunga jantan dengan bunga betina, tumbuhlah buah sebagai akibatnya. Demikianlah lebah membawa kebaikan disetiap bunga yang dihinggapinya. Umpamanya setiap manusia mencontoh lebah dalam hal-hal seperti itu, alangkah indahnya masyarakat manusia ini semuanya.
            Dalam melakukan tugas sebagai wali nikah tadi, lebah dibantu juga oleh serangga lain, seperti kumbang, kupu-kupu dan lain-lain. Juga tak dapat kita lupakan jasanya dalam hal ini adalah _egara. Firman Allah dalam al Qur’an surat al Hijr ayat 22 :
وَاَرْسَلْنَا الرِّيحَ لَوَا قِحَ
Artinya :
Kami tiupkan _egara itu untuk mengawinkan ( antara bunga jantan dengan bunga betina ).
            Kembalilah kita analisa tentang madu. Suatu analisa yang sungguh menarik. Madu adalah satu diantara milyaran tanda kemurahan dan kekuasaan Allah Tuhan kita. Telah berabad-abad lamanya diadakan observasi dan _egara_e_g dalam laboratorium-laboratorium dengan alat-alat modern. Semakin canggih alat yang digunakan, semakin tersingkap rahasia-rahasia dari pati bunga yang telah diproses jadi madu didalam tubuh lebah,serangga kecil lagi lemah itu. Akhirnya sains mengakui bahwa madu adalah obat berbagai macam penyakit sebagai yang diterangkan dengan _egara_e oleh Penciptanya sendiri dalam surat an Nahl ayat 68-69 :

وَاَوْحَى رَبُّكَ ِالَى النَّحْلِ اَنِ اتَّخِذِى مِنَ اْلجِبَالِ بُيُوْتًاوَمِنَ الشَّجَرِوَمِمَّا يُعْرِشُوْنَ- ثُمَّ كُلِى مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِى سُبُلَ رَبِّكَ ذلُلاً يَخْرُجُ مِنْ بُطُوْنِهَاشَرَابٌ مُخْتَلِفٌ اَلْوَنُهُ فِيْهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ اِنَّ فِى ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ
Artinya :
Dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah “Buatlah sarang dibukit-bukit, dipohon-pohon kayu dan ditempat-tempat yang dibuat oleh manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap ( macam ) buah-buahan, dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu ). Dari perut lebah itu keluarlah minuman  (madu)  yang berbeda-beda warnanya. Didalamnya terdapat obat bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang mau berpikir.

            Wahyu yang dimaksud dalam ayat tadi adalah wahyu instink yang abadi, ibarat metode penyampaian ilmu, dengan cara mempersiapkan bakat secara sepontan pada peringai tubuh si penerima wahyu hingga bisa dijamin bahwa dia akan mau melaksanakannya dengan patuh.
            Nah sekarang analisa kita tentang susunan dari pada madu. Telah kita ketahui bunyi wahyu Allah
kepada lebah : Makanlah dari tiap-tiap macam buah-buahan. Yang diisap oleh lebah adalah madu bunga-bungaan, yang sebenarnya memang merupakan bagian yang penting dari buah tersebut. Oleh karena buah itu mengandung gizi yang berjenis-jenis, maka tentulah semua jenis gizi itu terisap oleh lebah, sebagai persiapan untuk makanan anaknya nanti didalam sarangnya. Gizi-gizi yang bermacam-macam itulah  yang dikeluarkan lagi oleh lebah dalam madunya.
            Madu warnanya memang berbeda-beda, karena tergantung dari jenis bunga yang diisap lebah itu dan juga dipengaruhi oleh tempat pengumpulan madu-madu tersebut. Sehingga ada yang warnanya putih, ada yang agak kekuning-kuningan, ada yang merah dan lain-lain. Madu mempunyai bau yang khas dan sedap. Al Qur’an mengatakan bahwa madu itu obat.
            Madu terdiri dari dua macam gula segi enam (sudah diterangkan dalam kandungan air susu ). Yang pertama adalah _egara_ dan yang kedua adalah fruktase ( gula buah ). Oleh karena lebah makan zat buah-buahan yang berjenis-jenis, maka kadar gula dalam madu _egara_e_g dengan proteinnya, harus sama dengan komposisi masing-masing pada semua buah-buahan. Umumnya pada buah-buahan lemaknya sedikit sekali. Yang menonjol adalah gula dan protein. Dari bobot madu murni yang telah kristal, kita akan mendapat untuk setiap 71,4% gula, kadar proteinnya 6,7 %. Sungguh ini suatu yang sangat menakjubkan. Segala sesuatu disisi Allah sudah ada ukurannya sendiri-sendiri. Maka bersyukurlah kita dengan kecanggihan tehnologi sekarang ini, semakin terbuka rahasia-rahasia alam semesta yang selama ini masih terselubung jarang orang yang memikirkannya, padahal ia itu walaupun bisu, tetapi, seakan-akan bercerita bahwa ia adalah suatu teka teki yang rumit minta jawaban yang tepat. Sekaranglah mulai tampak jawaban-jawaban positif yang bukan hanya merupakan terkaan saja. Sains dengan segala kemampuannya memberikan jawaban yang kongkrit atas apa yang dulunya masih dianggap rahasia.
            Dalam madu itu terhimpun dua macam gula.Yang pertama adalah jenis gula yang paling manis diantara sekian banyak jenis gula. Gula itu adalah gula buah yang diistilahkan _egara_e. Yang kedua adalah jenis gula yang paling penting bagi manusia diantara sekian banyak jenis gula. Gula itu banyak terdapat dalam buah anggur,oleh karena itu dinamakan gula anggur dan diistilahkan _egara_. Selain itu dalam madu tersedia unit-unit zat sederhana yang fungsinya untuk membentuk energi pada makhluk hidup. Jadi kandungan madu serba penting.
            Pada manusia, gula jelas mempunyai peranan yang penting. Gula terkandung dalam darah dengan ketentuan ukuran : Tiap-tiap 100 mili liter darah, terkandung 100 mili gram gula. Itu sudah merupakan ukuran pas-pasan. Bila konsentrasi gula dalam darah melebihi target itu, maka ginjallah yang segera bertindak, kelebihan itu disaring  lalu dibuang bersama air kemih. Dan bilamana kadar gula kurang dari ukuran itu, maka yang terjadi adalah penurunan energi secara umum, yang membawa akibat kurangnya semangat pada penderita. Kalau demikian maka madu tidak ada membawa  efek _egara_e. Bagi yang kelebihan tidak berbahaya, sementara yang kekurangan dijamin menjadi cukup. Itulah madu, obat yang resepnya langsung dari al Qur’an dan sains merasa ta’jub setelah mengetahui rahasianya. Gula itu diproses dalam hati. Jadi tugas dari hati antara lain, mengubah gula menjadi unit-unit yang lebih kompleks dinamakan _egara_e. Glykogen atau tepung hewani ini  sewaktu-waktu harus siap diolah lagi. Tetapi hati itulah yang punya tugas. Umpamanya sesuatu ketika kadar _egara_ kurang dalam darah, maka hati mendapat instruksi baru untuk mengubah _egara_e buatannya tadi menjadi _egara_. Adapun dari mana hati itu tahu bahwa kadar _egara_ dalam darah kurang, dari mana dia memperoleh instruksi kilat itu, sains kembali angkat tangan menyerah kepada kebijaksanaan pengaturan Pencipta Agung.
            Umpama lagi hati sedang menderita suatu penyakit, kesehatan terganggu, sehingga tugas itu tidak bisa dia laksanakan, maka perlulah gula ditambah dalam makanan sehari-hari untuk menambah kadar gula dalam darah. Makanlah madu yang tidak mempunyai efek sampingan, insya Allah sehat, karena disitu telah tersedia gula.
            Sekarang perhatikan lagi kebaikan madu. Sebenarnya _egara_e itu, adalah gula keton yang telah bersatu. Maksudnya bahwa _egara_e mempunyai susunan keton. Ada _egar khas dari keton yang tidak baik. Yaitu sehabis oxidasi makanan pada otot-otot dia suka mengumpul dalam darah. Oleh karena keton mempunyai sifat asam,maka keton tersebut bisa merekatkan darah lantaran darah memang suka mengental. Pada keton bisa timbul kondisi keracunan yang biasanya disebut asidosis. Nah bagaimana cara mengatasi bahaya seperti itu.Madulah yang sanggup tampil. Dia gunakan glukosenya untuk menolak terjadinya pengumpulan keton dalam darah. Maha Sucilah Allah Pencipta Yang Maha Bijaksana. Bahaya yang tadinya akan timbul telah disiapkan pula zat atau _egara lain untuk mengatasinya.
            Didalam madu Allah sudah menyiapkan apa yang dinamakan  “klaikoprotein” yang sangat penting karena gunanya yang tiga macam,yaitu :
  1. Membentuk pembantu-pembantu organ tubuh atau enzim-enzim.
  2. Menyusun bermacam-macam _egara_.
  3. Membentuk jasad-jasad pelawan bibit penyakit.
Selain itu, ingatlah bahwa protein ada juga pada madu. Protein inilah yang mendatangkan rasa kenyang. Walaupun kadar protein pada madu kelihatannya kurang, tetapi itulah sebenarnya yang pas-pasan.
Protein madu berguna untuk bermacam-macam kepentingan. Disana terkandung garam-garam mineral yang meliputi _egara-unsur penting seperti magnesium dan yodium. Jadi sarang tawon mengambil andil juga dalam pembangunan protein selain mengandung sisa selain lilin dan bahan-bahan lain.
Kesimpulannya bahwa madu adalah salah satu obat yang resepnya langsung dari al Qur’an sebagaimana telah dijelaskan. Dan memang sudah menjadi kenyataan bahwa madu lebih bergizi dari daging maupun telur. Dalam madu sudah terkandung tujuh macam enzim yang sangat berharga. Selain itu juga madu mengandung banyak mineral, vitamin B kompleks, Vitamin C, dekstrim, pigmen tumbuhan, amino acid, protein dan komponen _egara_e.


Penyakit-Penyakit Yang Dapat
Diberantas Dengan Madu

  1. Terganggunya alat pernafasan.
Sebelum kita sampai kepada masalah bagaimana mengatasi gangguan alat pernafasan dengan madu, baik kiranya kita ketahui _egar-ciri dari penyakit yang menimpa organ-organ pada alat pernafasan itu. Antara lain adalah melemahnya kemampuan umum dari penderita dan menurunnya semangat. Hal itu adalah merupakan akibat dari :
  1. Pengaruh virus-virus yang sekian banyak dan bibit-bibit penyakit yang memusnahkan sel-sel dan mengeluarkan racun-racun.
  2. Penggunaan sumber-sumber energi untuk mengganti panas yang hilang dan membangun kembali yang telah rusak.

Macam-macam gangguan alat pernafasan adalah :
1.Influenza dan selesma.
            Pada madu terkandung vitamin B kompleks dan vitamin C. Penyebab dari penyakit skrabut adalah kurangnya vitamin C. Selain itu juga vitamin C juga memiliki fungsi lain yaitu mempercepat pertumbuhan sel-sel dan membantu melepaskan energi dalam gerakan. Vitamin itu juga meringankan pengaruh-pengaruh dingin dan melawan selesma. Penyakit influenza adalah terganggunya alat pernafasan. Madu bisa kita gunakan untuk mengatasi penyakit  macam itu. Sebaiknya madu dicampur dengan perasan air jeruk besar yang dibuang bijinya. Kalau tidak demikian madu itu bisa dicampur dengan makanan atau minuman yang panas. Itu sangat mujarrab untuk menyembuhkan penyakit-penyakit dingin pada umumnya.

2.Batuk dan saluran pernafasan kena radang.
Untuk mengobati penyakit ini, madu juga sangat cocok. Dulunya orang langsung menghirup madu bila kena penyakit batuk dan sesak,atau terkena radang pada saluran pernafasan. Sekarang karena kemajuan ilmu pengetahuan, madu telah diubah menjadi uap. Cara seperti itu lebih praktis karena madu dalam bentuk gas bisa menembus segala penjuru pernafasan. Saluran pernafasan bisa dibersihkan dari segala virus-virus dan bibit-bibit penyakit yang sempat dijumpainya disepanjang saluran itu. Selain itu juga uap madu  itu bisa lewat menembus dinding alveolus dalam paru-paru, kemudian masuk menyelusup ke dalam darah. Dengan demikian, maka dapat mengadakan operasi pembersihan pada semua peralatan pernafasan.

3. Radang Amandel.
Amandel atau tonsil dan juga lekum yang kena radang memang bisa diusap dengan madu, sebagai pengganti alat pembersih yang lain. Karena _egara_ yang terkandung dalam madu mempunyai kemampuan perekat terhadap bakteri dan bibit penyakit, selain karena madu mengandung jasad-jasad pelawan bibit penyakit, yang sudah kita bicarakan dibentuk oleh klaikoprotein.Madu adalah makanan yang sangat mudah dicerna tanpa mengganggu lambung, dan juga rasanya yang sangat manis menyebabkan kita senang meminumnya.Biasanya orang yang mau mengurangi berat badan,dilarang banyak makan gula, tetapi madu tidak dilarang,karena tidak membawa bahaya.
4. TBC atau sakit paru-paru.
Para penderita penyakit paru-paru terutama yang telah akut, harus diberikan madu setiap hari sebagai bahan esensiil. Sebab madu itu akan memberi kesempatan kepada jaringan-jaringan paru-paru supaya bisa tumbuh dengan baik. Juga protein yang terdapat dalam madu yang tersusun dengan zat lain seperti klaikoprotein, yodium, magnesium maupun ferum, akan membantu pembinaan sel-sel, serum dan penyusunan darah seperti hemoglobin. Berat tubuh pasien juga bisa bertambah oleh madu, dan madu dapat memberi kesegaran secara terus menerus.

    B.Penyakit-penyakit yang lain.

  1. Sakit ginjal.
Sudah kita katakana bahwa fungsi ginjal, sangat penting karena menyaring darah dari air kemih yang kotor. Kalau ginjal kena radang, itu adalah akibat peradangan pada nephron-nephron, yaitu pipa-pipa yang terdapat dalam ginjal. Dalam keadaan seperti itu, ginjal tidak dapat mengembalikan protein yang terserap bersama air kemih. Kita sudah tahu bahwa
protein sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk menimbulkan rasa kenyang. Kalau kita makan makanan yang biasa yang mengandung banyak protein, dikhawatirkan bahwa konsentrasi protein akan terlalu banyak dalam darah, yang akan mengakibatkan semakin berat kerjanya nephron-nephron itu akibatnya juga akan mempertinggi tekanan pada kapiler pembuluh balik dan bisa menimbulkan bengkak. Oleh karena itu madulah yang paling cocok untuk mengobati penyakit ginjal itu. Maksudnya supaya pas-pasan dan bisa mempercepat kesembuhan.
            Kadar protein yang sedikit dalam madu tidak akan menyebabkan naiknya tekanan darah.Dan unit-unit gula yang sederhana bisa mempersiapkan energi  bagi tubuh kita tanpa mengalami kesulitan.

  1. Macetnya alat pencernaan.
Minum madu hikmahnya sangat banyak, _egara segala macam bahaya yang dialami alat-alat tubuh, sudah disiapkan cara mengatasinya oleh madu. Alat pencernaan umpamanya. Madu akan memperlancar peredaran darah dan bisa meringankan isi makanan. Bilamana isi makanan sudah menjadi ringan, akan mempergiat gerak usus untuk membagi-bagi makanan. Dengan demikian alat pencernaan tidak macet. Kalau jenis gula yang lain, bisa menimbulkan kesulitan pencernaan, tetapi gula madu tidak demikian.Makanan yang lainpun kadang-kadang  ada yang sulit diserap dan dicerna, tetapi madu tidak pula demikian.
            Karena  madu banyak mengandung glukuse, maka madu lebih bersatu dalam usus bagian atas,dan langsung bisa pergi keotak dan otot-otot, sebab ia lebih cepat diubah menjadi glikogen. Maka sebaiknya para olah ragawan banyak meminum madu untuk menambah kekuatan dan semangat sesuai dengan prestasi yang diinginkan. Lihat saja sebagai contoh, orang-orang yang terkenal seperti Sir Edmond Hellary, penakluk pertama puncak Mount Everest yang terkenal tertinggi didunia. Dia pemimpin rombongan penaklukan tersebut. Hellary gemar memelihara lebah dan menjadi langganan tetapnya yang memberinya makanan sehat itu, sehingga ia berhasil melakukan pekerjaan yang sungguh-sungguh berat. Dia mengatakan : “Madulah yang merealisir  pekerjaan yang luar biasa ini”.
            Lihat lagi salah seorang bekas petinju dunia yang pernah menjuarai tinju yaitu Jim Loundus, walaupun bentuk badannya pendek, tetapi beratnya cukup tinggi, sehingga pukulannya dapat merobohkan lawannya dengan mudah, padahal umurnya baru 30 tahun. Salah satu kebiasaan Loundus untuk memperoleh kesehatan, adalah dengan minum madu banyak-banyak sebelum makan. Berkat madu dia jadi orang terkenal.
            Kemudian lagi, Fillip Raisnegh. Mungkin ada orang yang belum kenal juara kita ini. Dia adalah perenang ternama yang berhasil menyeberangi danau Wondermeer sejauh 10 mil, Cuma dalam tempo delapan jam saja. Selama berenang itu dia minum madu dan makanan-makanan kecil saja.
            Para peserta lomba renang yang menyeberangi sebuah kanal ( terusan) di Inggris juga banyak minum madu untuk mempertahankan kondisi kekuatan mereka. Karena kanal yang mereka tempuh terbentang dari antara Inggris dan Perancis panjangnya sampai 20 mil.
Sebuah majalah di Inggris bernama majalah Lanset, memuat tulisan seorang dokter  bernama G.Thomas yang terkenal dalam pengolahan madu atau obat penyakit jantung. Tulisan beliau berisi keterangan: Madu mempunyai pengaruh yang patut mendapat perhatian dalam memberi kelancaran kerja jantung, dan memberikan tenaga kembali kepada para penderita serangan jantung.
            Kata beliau seterusnya, bahwa madu juga memberi pengaruh dalam menurunkan ketegangan saraf dan memudahkan tidur.Kalau sebelum tidur minum madu campur susu,untuk apa repot-repot mencari jamu atau obat penenang supaya cepat tidur. Tetapi gula campur susu, perlu dipikirkan, karena kadang-kadang menimbulkan peragian dalam lambung, yang berakibat terbentuknya gas-gas. Bila seseorang menderita pencernaan tidak normal,atau ada kelemahan lambung, tak kan mampu bertahan dari bahaya gula, tetapi minum madu tidak apa-apa jangan khawatir.
            Gula putih adalah gula yang kompleks susunannya, dalam kondisi biasa dibutuhkan proses pencernaan dan proses analisa sebelum tubuh menggunakannya sebagai sumber energi. Tetapi madu telah dicerna oleh lebah terlebih dahulu. Sebagaimana yang dikatakan oleh Dr.Schwitt, seorang dosen di Universitas Wiesconsin, bahwa madu mengandung semua mineral yang membentuk kerangka tulang, terutama ferum, cuprum dan mangan. Ferum tersebut penting sekali  melihat hubungannya dengan sel-sel merah, yaitu sel yang mengandung oxygen untuk kepentingan berbagai jaringan tubuh.
            Bagi anak, madu sangat penting untuk membangun tulang yang sehat dan gigi yang kuat. Dan anak-anak akan senang meminumnya karena manis dan aroma madu tidak menusuk.
            Yang tak kalah menariknya, bahwa berkat madu maka allergi dapat diatasi. Biasanya dokter menganjurkan para korban allergi untuk menggunakan obat penimbul batuk,yang mana obat ini membutuhkan madu dalam susunannya. Satu pound madu (pound Inggris 453,6 gram ) memuat sekitar 1400 kalori. Maka tidaklah ada ucapan yang lain yang pantas kita ucapkan bagi lebah yang dengan tekun memproduksi madu untuk kesehatan kita, selain dari ucapan banyak-banyak terima kasih, walau lebah itu sendiri tidak pernah mengharapkan yang demikian itu.

  1. Untuk mengobati penyakit lemah seluruh tubuh.
Madu adalah minuman yang mengandung _egara-unsur penyusun yang penting dan membantu kelancaran keluarnya getah-getah dari kelenjar-
kelenjar. Madu itu mensuply kepada kelenjar-kelenjar tersebut _egara-unsur mineral maupun lainnya, dan mencegah terjadinya kemacetan. Madu memberi semangat dan dapat memelihara suhu badan karena dalam madu terkandung dua macam gula yang berlawanan yaitu glukosa aldehida dan _egara_e keton. Ciri khas seperti itulah  yang tidak bisa dilakukan oleh obat-obat yang lain pada waktu bersamaan. Maka dengan demikian madu digunakan  juga sebagai obat turun panas.
  1. Orang-orang Timur Tengah dari zaman dahulu sudah mengetahui khasiat madu,apalagi kalau dicampur dengan bawang putih dan roti,akan menghasilkan kekebalan bagi tubuh untuk melawan penyakit dan proses ketuaan.
Hipocrates filosof terkenal dari Yunani zaman dahulu, mengatakan bahwa madu mendatangkan rasa hangat, menyembuhkan bisul dan luka.
Itu memang benar, malah bisa digunakan sebagai salep untuk luka _egar atau  tersiram air panas, menyembuhkan peradangan dan mencegah pembusukan.
Kalau diminum diwaktu malam akan menimbulkan kesegaran dan semangat kerja setelah bangun.






PERINGATAN MAULID NABI SAW Sebagai Bentuk Kearifan Terhadap Tradisi


مَنْ سََنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ  سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ اَجْرُهَا وَاَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ اِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَلَهُ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ اِلَى يَوْمِ اْلقِيَامةِ
Artinya :
Barang siapa merintis  dalam Islam jalan yang baik, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya, sampai hari kiamat. Dan barang siapa merintis jalan yang jelek, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya sesudahnya sampai hari kiamat.-

Dalam masyarakat kita terutama ummat Islam di Indonesia, pada setiap bulan Rabi’ul Awwal diadakan upacara Peringatan Maulid Nabi Saw.
            Upacara semacam itu bukan hanya diadakan oleh masyarakat saja, bahkan pemerintah juga mengadakan upacara seperti itu. Malah bukan hanya itu saja. Peringatan Isro’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an selalu disambut dengan upacara meriah.  
Kalau kita membaca sejarah, sebenarnya upacara seperti itu, tidak pernah diadakan pada zaman Nabi, juga tidak pernah pada zaman sahabat. Demikian pula pada zaman Tabi’in. Jadi pekerjaan itu adalah bid’ah. Tetapi bid’ah yang hasanah atau baik. Sama saja dengan membuat Madrasah, membuat Panti Asuhan, menyusun buku dan lain – lain. Sekalipun perbuatan  itu termasuk bid’ah, tetapi manfaatnya sudah jelas terlihat. Dalam hal ini kita berpegang pada firman Allah dalam surat al Hajj ayat 30 :

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللهِ فَهُوَ خَيْرٌلَّهُ عِنْدَ رَبِّهِ
Artinya:
Yang demikian itu, dan barang siapa mengagungkan  apa yang terhormat disisi Allah, maka ia lebih baik baginya disisi Tuhannya.
Dalam ayat ini jelas bahwa mengagungkan sesuatu  yang dihormati disisi Allah seperti bulan – bulan harom, yaitu Rajab, Dzul qoidah, Dzul hijjah dan Muharrom, itu sangat baik. Begitu pula menghormati tempat-tempat yang terhormat seperti Tanah Harom Makkah dan Madinah.
Selanjutnya ayat 32 mengatakan :
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَاللهِ فَاِنَّهَا مِنْ تَقْوَى اْلقُلُوْبِ
Artinya:
Yang demikian itu, dan barang siapa mengagungkan syi’ar – syi’ar Allah, sesungguhnya ia dari taqwanya hati.-
Yang dimaksudkan dengan syi’ar – syi’ar Allah adalah amalan – amalan dalam ibadah haji dan tempat – tempat mengamalkannya seperti Ka’bah, bukit Shofa, bukit Marwah dan lain – lain.
Kalau mengagungkan hal – hal ini adalah perbuatan terpuji, maka akan lebih terpuji lagi mengagungkan Baginda Rasulullah Saw. Karena beliau adalah kekasih Allah termulia diantara sekian banyak makhluknya.
Para sahabat Nabi mengagungkan beliau dengan cara membelanya dengan jiwa raganya, dengan menghidupkan sunnahnya. Juga para sahabat mencium tangan beliau, mencium kepala beliau  yang mulia, juga dengan mencium kaki beliau yang suci. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Muqri :

عَنْ اَبِيْ بَزَّةَ قَالَ دَخَلْتُ مَعَ مَوْلاَيَ عَبْدِ اللهِ بْنِ السَّائِبِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْتُ يَدَهُ وَرَأْسَهُ وَرِجْلَهُ
Artinya:
Dari Abi Bazzah beliau berkata : “Saya bersama budak saya Abdullah bin Sa’ib masuk kepada Nabi Saw. Saya mencium tangan beliau, dan kepala serta kaki beliau.
            Bagi kita yang sekarang, mengagungkan beliau dengan menghidupkan sunnahnya, banyak – banyak membaca sholawat. Dan yang tak kalah pentingnya adalah mengagungkan hari kelahiran beliau, dengan pengajian riwayat hidup beliau, menjamu para tamu, membaca al Qur’an, membaca zikir, sholawat dan lain – lain.
            Itu semua merupakan salah satu cara mengagungkan Baginda Rasulullah Saw.
            Dalam kitab الاصابة فى تمييز الصحابة karangan Imam Ibnu Hajar al Asqollani pada tarjamah طلحة بن البراء الانصاري   diterangkan :

اِنَّهُ لَمَّا لَقِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ غُلاَمٌ فَجَعَلَ يَدَنُوْ مِنْهُ وَيُلْصِقُ بِهِ وَيُقَبِّلُ قَدَمَيْهِ  وَيَقُوْلُ : مُرْنِيْ بِمَا اَحْبَبْتَ يَارَسُوْلَ اللهِ  فَلاَ اَعْصِى لَكَ اَمْرًا. فَسَرَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاَعْجَبَ بِهِ ثثمَّ مَرِضَ وَمَاتَ فَصَلَّى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرِهِ وَدَعَالَهُ وَقَالَ اَللَّهُمَّ  اْلقَ طَلْحَةَ وَاَنْتَ تَضْحَكُ اِلَيْهِ وَهُوَ يَضْحَكُ اِلَيْكَ
Artinya:
Sesungguhnya ketika beliau ( Tholhah ) berjumpa dengan Nabi Saw. Sewaktu beliau masih muda. Beliau langsung mendekat dan mendekatkan badannya dengan Nabi. Beliau mencium kedua kaki Nabi, sambil berkata : “Ya Rasulullah suruhlah saya, dengan apa saja yang engkau inginkan. Saya tidak akan durhaka padamu.” Nabi sangat senang kepadanya. Kemudian Thalhah sakit langsung wafat. Rasulullah Saw. Sholat diatas kuburnya, dan berdo’a untuk beliau : “Ya Allah, sambutlah Tholhah, sambil Engkau tertawa (senang ) kepadanya, dan iapun tertawa padamu.
            Demikianlah cara sahabat ta’zim kepada Rasulullah Saw. Maka tidak dikatakan berlebihan  apabila kita sekarang, merayakan hari kelahiran beliau dengan bermacam – macam ibadah, yang mana ibadah – ibadah tersebut adalah sangat disenangi oleh beliau.
            Maka bagaimanapun orang tidak setuju dengan Perayaan Maulid Nabi, insya Allah akan tetap kita rayakan. Di _egara – _egara Timur Tengah seperti di Iran, Qatar, Siria, Mesir, Libanon, Oman, Bahrain, Abu Dlobi dan lain – lain, Perayaan Maulid Nabi selalu dirayakan  sebagaimana dapat kita saksikan melalui pesawat _egara_e.
            Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim juga diterangkan, sabda Rasulullah Saw :

Peringatan Maulid sudah terang baiknya, karena menghormati atau memuliakan junjungan kita Nabi Muhammad Saw, dengan upacara yang meriah. Biasanya dalam upacara itu selain kita menyiapkan santapan jasmani berupa bermacam – macam hidangan, juga yang lebih kita pentingkan adalah santapan rohani. Santapan rohani yang biasa disajikan pada ketika itu, adalah khas sekali, yaitu riwayat hidup Baginda Rasulullah Saw.
Dalam buku ini, kita akan membicarakan riwayat beliau itulah. Cuma saja hanya sekitar kelahiran beliau.

Orang yang pertama kali mengadakan upacara peringatan Maulid Nabi adalah seorang Raja yang sangat adil, alim lagi sholih, wara’ lagi zuhud, yaitu Al Malikul Muzhoffar Abu Sa’id, penguasa negeri Irbila. Beliau wafat pada tahun 630 H. Seorang alim yang bernama Ibnu Dihyah menyusun kitab yang berisikan biografi Rasulullah Saw. Kitab itu diberi nama At Tanwir fii Maulidil Basyirin Nadziir.
Al Malikul Muzhoffar menganugrahkan hadiah untuk beliau 1000 dinar ( uang emas ) .-
Dalam peringatan Maulid yang beliaua adakan, Raja itu menghabiskan dana sampai 300.000 dinar. Menurut penjelasan salah seorang yang pernah menghadiri upacara yang beliau adakan, kambing saja yang beliau sembelih 5.000 ekor, ayam 10.000 ekor.
Dalam upacara yang beliau adakan, rakyat diperlukan hadir, demikian pula alim ulama, ahli shufi dan juga para pejabat pemerintah. Sehingga diperhitungkan setiap kali Maulid beliau menghidangkan 100.000 piring santapan dengan 30.000 piring jajan.
Peringatan Maulid yang kita adakan untuk menampakkan rasa syukur dan mahabbah kita kepada Baginda Rasul yang kita junjung tinggi. Landasan berpijak kita dalam hal ini, adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim demikian :

اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ اْلمَدِيْنَةَ فَوَجَدَ اْليَهُوْدَ يَصُوْمُوْنَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَسَأََلَهُمْ فَقَالُوْا هُوَ يَوْمٌ اَغَرَقَ اللهُ فِيْهِ فِرْعَوْنَ وَنَجَّى مُوْسَى وَنَحْنُ نَصُوْمُ شُكْرًا فَقَالَ نَحْنُ اَوْلَى بِمُوْسَى مِنْكُمْ .
Artinya :
Ketika baginda Nabi Saw. Tiba di Madinah, beliau menjumpai orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyuro’. Beliau bertanya kepada mereka (tentang sebab-sebabnya ). Mereka menjawab : “Asyuro’ adalah hari dimana Allah menenggelamkan Fir’aun dan menyelamatkan Nabi Musa As. Kami mempuasakannya adalah karena syukur”. Maka beliau bersabda: “Kamilah yang lebih utama dengan Nabi Musa dari pada kamu sekalian “.
Nah, kalau hari terlepasnya Nabi Musa dari bahaya maut yang mengancam jiwa beliau, dimuliakan, apalagi hari lahirnya junjungan kita yang maha mulia itu. Cuma saja orang Yahudi memuliakan hari itu dengan diperintahkan berpuasa, tetapi kita memuliakan hari Maulid Nabi kita dengan santapan rohani, santapan jasmani dan ibadah – ibadah lain. Dalam hal ini yang berbeda Cuma cara, sedangkan tujuan pokok adalah sama persis. Abu Lahab saja walaupun ia musuh Allah dan Rasul yang kelas kakap, mendapat keringanan siksa setiap hari  kelahiran Nabi yaitu hari Senen, adalah karena rasa gembiranya ketika menyambut kelahiran beliau. Dan air susu budak yang dia merdekakan untuk menyusukan beliau dibalas dengan air sejuk keluar dari sela-sela jarinya sebesar empu jarinya. Demikian diceritakan oleh Sayyidina Abbas saudaranya, katika Sayyidina Abbas mimpi bertemu dengan Abu Lahab setelah matinya Abu Lahab.
Dalam sebuah hadits yang dlo’if diterangkan bahwa Rasulullah Saw bersabda :

مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدِىْ كُنْتُ شَفِيْعًالَهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَمَنْ اَنْفَقَ دِرْهَمًا فِى مَوْلِدِى فَكَأَنَّمَا اَنْفَقَ جَبَلاً مِنْ ذهَبٍ فِى سَبِيْلِ اللهِ تَعَالَى
Artinya :
Barang siapa membesar-besarkan maulidku maka aku memberi syafaat baginya nanti dihari kiamat, dan barang siapa mendermakan satu dirham untuk maulidku, maka seolah-olah ia mendermakan satu gunung emas pada sabilillah Ta’ala.-

Kata Sayyidina Abu Bakar Ra. :

مَنْ اَنْفَقَ دِرْهَمًا فِى مَوْلِدِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ رَفِيْقِيْ فِى اْلجَنَّةِ .


Artinya :
Barang siapa mendermakan sedirham pada maulid Nabi Saw. Dia adalah temanku nanti disurga.-
Kata Sayyidina Umar ra.:

مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ اَحْىَ اْلاسْلاَمِ
Artinya:
Barang siapa membesarkan Maulid Nabi Saw, maka sesungguhnya ia telah menghidupkan Islam.
           
Kata Sayyidina Usman Ra.:
مَنْ اَنْفَقَ دِرْهَمًا عَلَى قِرَأةِ  مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَأنَّمَا شَهِدَ يَوْمَ  وَقْعَةِ بَدْرٍ وَحُنَيْنِ
Artinya : 
Barang siapa menafkahkan sedirham untuk membaca Maulid Nabi Saw, maka seolah – olah ia menyaksikan perang Badar dan Perang Hunain.
           
Kata Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah :
مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدَ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْيَا اِلاَّ بِاْلاِيْمَانِ
Artinya :
Barang siapa membesar-besarkan maulid Nabi Saw, maka ia tidak akan mati kecuali dengan iman

Kata Imam Syafi’I :
مَنْ جَمَعَ لِمَوْلِدِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِخْوَانًا وَهَيَّألَهُمْ طَعَامًا وَعَمِلَ اِحْسَانًا بَعَثَهُ اللهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مَعَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَيَكُوْنُ فِى جَنَّاتِ النَّعِيْمِ
Artinya :
Barang siapa mengumpulkan orang untuk merayakan Maulid Nabi Saw dan menyiapkan santapan bagi mereka, dan ia berbuat baik, maka Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat beserta para shiddiqin, dan para syuhada’ serta para sholihin. Dan akan masuk Jannatun Na’im .
Kata Surri as Suqthi :

مَنْ قَصَدَ مَوْضِعًا يُقْرَأُ فِيْهِ مَوْلِدُ النَّبِىِّ فَقَدْ اُعْطِيَ رَوْضَةً فِى اْلجَنَّةِ لأِنَّهُ مَا قَصَدَ ذلِكَ اْلمَوْضِعَ اِلاَّ لِمَحَبَّتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .

Artinya:
Barang siapa berjalan menuju tempat yang dibaca padanya Maulid Nabi Saw, maka sesungguhnya ia diberi satu taman surga. Karena tiadalah ia _egara ketempat itu, kecuali lantaran cintanya kepada Nabi Saw.-
            Rasulullah Saw pernah bersabda :
            مَنْ اَحَبَّنِى كَانَ  مَعِى فِى اْلجَنَّةِ
Artinya :
Barang siapa mencintai aku, adalah ia bersamaku nanti disurga.
Demikianlah pegangan yang kuat dalam mengadakan upacara Maulidan.
Adapun masalah yang mengilhami Al Malikul Muzhoffar Abu Sa’id mengadakan upacara Maulidan, adalah untuk membangkitkan semangat juang ummat Islam pada waktu itu. Karena beliau saksikan sendiri, bahwa ummat Islam ketika itu mundur dan pengecut dalam membela agama. Beliau susah karena bangsa Tartar dan Mongol, sudah mendekati negaranya  untuk menjajah. Negara – _egara Islam lainnya, malah sudah banyak yang jatuh ke tangan mereka.
Kalau ummat Islam akan tetap pengecut, berarti ummat Islam akan jatuh ketangan orang-orang kafir. Untuk membangkitkan dan menghidupkan semangat mereka, maka bertepatan dengan ulang tahun kelahiran  Nabi,





KEARIFAN RASUL DALAM BERDAKWAH
Rasulullah Saw Berda’wah ke Tho’if

اَللَّهُمَّ اهْدِ  قَوْمِيْ فَاِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ
Artinya:
 “Ya Tuhankau berilah kaumku hidayah karena mereka belum mengetahui (bahwa saya adalah utusanmu ).


Setelah mengalami sekian banyak rintangan dan ancaman dari orang kafir Makkah. Beliau keluar meninggalkan Makkah menuju sebuah negeri disebelah tenggara Makkah. Negeri itu adalah Tho’if yang dihuni oleh qabilah Bani Tsaqip. Tho’if terkenal subur. Beliau ditemani oleh bekas budaknya bernama Zaid bin Haritsah. Negeri Tho’if pada waktu itu dipimpin oleh tiga orang bersaudara yaitu Abdu Yalil, Mas’ud dan Habib. Ketiganya adalah putra Amru bin Umair. Beliau langsung menemui ketiga pemimpin negeri Tho’if.
Sebulan lamanya beliau merayu mereka dengan cara sangat bijaksana. Ada riwayat lain mengatakan 10 hari lamanya. Rupanya waktu itu harapan tinggal harapan. Kenyataan yang beliau temui sebaliknya dari apa yang didambakan. Beliau diterima dengan segala kekasaran. Bahkan bukan hanya itu. Yang lebih parah lagi adalah diusir dengan kejam, disoraki dan dilempari dengan batu. Anak-anak dan budak-budak Tho’if mengeroyok  beliau dengan tidak ada belas kasihan. Lemparan batu yang sekian seru itu hanya ditangkis oleh Zaid seorang diri. Maka beliau berdua sampai berdarah karena lemparan itu. Bilamana beliau merasa letih betul karena lemparan dan serangan yang bertubi-tubi itu, beliau duduk istirahat. Tetapi orang-orang kafir itu  membangunkan beliau kembali lalu dilempari dan disoraki.
Beliau terpaksa meninggalkan Tho’if dengan hati sedih. Ketika itu datanglah seorang Malaikat yang bertugas  menjaga gunung menawarkan bantuannya: “Wahai Muhammad, saya tunggu perintah anda kepada saya untuk menghimpit semua penduduk Tho’if dengan gunung Abi Qubais dan Qu’aiqi’an. Biar mereka mampus semuanya. Mereka telah berbuat kurang ajar terhadap perintah Allah.”
Baginda Nabi menjawab dengan nada kasihan: “Jangan sampai demikian wahai Malaikat. Mereka belum tahu bahwa saya adalah utusan Allah. Nanti kalau mereka  tahu tentu mereka akan masuk Islam. Umpamanya mereka tidak akan mau, mungkin anak cucu mereka  yang akan menjadi orang-orang yang beriman.”
Demikian sabarnya Nabi. Sedikitpun beliau tidak merasa dendam. Dalam perjalanan pulang beliau beristirahat ditempat yang teduh dekat kebun Uthbah dan Syaibah. Kedua orang itu adalah musuh Allah dan Rasulnya. Rasulullah Saw berdo’a yang maksudnya: Ya Tuhanku, kepadamulah aku adukan kelemahanku, wahai Tuhanku Yang Maha Pengasih Penyayang. Engkaulah penjaga orang-orang yang diremehkan. Kepada siapakah Engkau akan menyerahkan aku. Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak perduli.”
Tersentuh juga hati kedua musuh Allah itu melihat penderitaan Nabi. Disuruhnya  budaknya mengantarkan Baginda buah anggur. Adas nama budak itu, datanglah ia mengantarkan buah anggur itu. Sewaktu Baginda akan menyantapnya, beliau membaca “بسم الله الرحمن الرحيم “.Adas tercengang keheranan mendengar ucapan itu. Dia berkata: “Bacaan seperti itu biasa dibaca oleh orang Ninuwa ( Ninive ).”
Beliau bertanya: “Anda dari mana dan apa agamamu ?”
“Saya dari Ninuwa ( Ninive yaitu sebuah negeri ditepi sungai Dajlah, pada ujung _ocial Iraq. Didekatnya negeri Mushil, negeri itu adalah negeri Nabi Yunus ). Agama saya adalah Nashrani.
“Ninuwa adalah negeri saudaraku Yunus.”
“Dari mana anda tahu Yunus ?”
“Beliau adalah Nabi sama dengan aku.”
Mendengar jawaban itu, Adas masuk Islam. Diciumnya wajah Nabi sampai kakinya. Perbuatan itu dilihat oleh majikannya. Sewaktu kembali dia ditanya dan dimarahi karena masuk Islam.
Jibril _ocial menghadap beliau dan bersabda: “Wahai Muhammad saya disuruh menghadap untuk mambantumu. Apa yang anda inginkan untuk menghancurkan penduduk Tho’if saya akan melakukan.” Baginda Nabi lalu bersabda:
اَللَّهُمَّ اهْدِ  قَوْمِيْ فَاِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ
Artinya:
 “Ya Tuhankau berilah kaumku hidayah karena mereka belum mengetahui (bahwa saya adalah utusanmu ).
Sabda Jibril : “Maha benar Allah yang menamakan anda penyantun lagi penyayang.”
Beliau bermalam di Nakhlah. Tengah malam beliau bangun sholat tahajjud dan membaca al Qur’an. Ketika itu ada 7 orang jin sedang berkeliling, mencari sesuatu yang menjadi penyebab mengapa mereka tidak diberi naik mendengar qalam yang menulis di Lauhil Mahfudz. Ketujuh orang jin itu kebetulan lewat disana. Alangkah herannya mereka mendengar bacaan itu. Mereka berkata: “Ini ada kitab diturunkan sesudah Taurat Nabi Musa. Mungkin dialah yang menyebabkan kita tidak diberi naik lagi.”
Mereka semua menghadap kepada Baginda Nabi dan menyatakan keislamannya. Mereka belajar al Qur’an dan cara beribadah. Baginda Nabi menyuruh mereka berda’wah kepada teman-temannya. Diceritakan bahwa tiap-tiap orang dapat mengislamkan 10.000 orang jin.
Besoknya beliau langsung pulang ke Makkah dan melanjutkan da’wahnya. Berselang beberapa lama sesudah itu tepat pada malam Senin tanggal 27 Rajab dalam usia 51 tahun 4 bulan 15 hari, beliau di Isro’ dengan mengendarai Buroq ke Masjidil Aqsho. Dari situ beliau dinaikkan dengan mi’roj ( tangga ) yang diturunkan dari surga Firdaus ke Hadlratul Qudsi. Beliau dihibur dengan menyaksikan keajaiban alam Malakut, melihat langsung surga yang penuh nikmat.
Perjalanan luar biasa itu, mendatangkan fitnah yang sangat besar dari orang-orang kafir Makkah. Semakin mereka menuduh Nabi gila. Pada malam itu beliau menerima perintah sholat yang 5 ( lima ) waktu dan bermacam-macam nikmat lagi.



Fiqh Lokal

Disiplin keilmuan Islam lainnya yang menjadi fakta sejarah bagaimana doktrin Islam mengaprisiasi budaya lokal adalah ilmu fiqih.  Sebagai institusi pembebas, fiqh harus dimaknai proses bukan produk monumental. Hukum Islam atau fiqh, memiliki karakteristik yang jauh berbeda dengan hukum dalam pengertian ilmu hukum modern. Hukum Islam dikembangkan berdasarkan wahyu di samping pemikiran manusia dan juga diwarnai oleh _ocia kelokalan di samping _ocia keuniversalan. Dengan demikian, fiqh dikatakan sebagai hasil akhir dari suatu proses dialogis dan dialektis antara pesan-pesan samawi (normativitas) dengan kondisi _ocial bumi (historisitas). Aturan-aturan yang terbukukan dalam berbagai kitab fiqh tidak dapat dilepaskan dari pengaruh cara pandang manusia, baik secara pribadi maupun _ocial. Dengan demikian, selain sarat dengan nilai teologis,  fiqh juga memiliki watak sosiologis.
  Dengan penjelasan di atas, fiqh berarti dapat membentuk dan dibentuk oleh masyarakat. Hubungan yang saling mengisi ini menunjukkan betapa _ocial__ muatan _ocial__ dalam fiqh itu. Kuatnya muatan _ocial__ itu dapat dibuktikan dengan keterbukaan fiqh untuk menerima konsep ‘urf, istihsan serta istislah sebagai bagian dari sumber-sumber fiqh.
Ada beberapa bukti kesejarahan lainnya untuk menunjukkan bagaimana kondisi _ocial budaya memberikan pengaruh kuat terhadap pembentukan fiqih. Adanya qaul _ocia  dari Imam Syafi’I yang dikompilasikan setelah sampainya ia di Mesir, ketika dikontraskan dengan qaul qadim-nya yang  dikompilasikan di Irak, merefleksikan adanya  pengaruh dari tradisi _ocia kedua negeri yang berbeda. Imam  Malik percaya bahwa aturan _ocia dari suatu negeri harus dipertimbangkan dalam memformulasikan suatu ketetapan, walaupun ia memandang _ocia atau  ‘amal ahl al-Madinah sebagai _ocial__ yang paling otoritatif dalam teori hukumnya, merupakan bukti lain dari kuatnya pengaruh kultur setempat tidak pernah dikesampingkan oleh para juris muslim dalam usahanya untuk membangun hukum. Bagi Malik ‘Amal ahli Madinah ini lebih kuat dari hadis Ahad (transmisi tunggal). “Al-‘amal atsbat min al-hadits”, katanya. Pendirian Malik yang menghargai tradisi _ocia Madinah tersebut terus dipertahankan meski banyak ulama yang menentangnya dan meski harus berhadapan dengan rezim yang berkuasa. Pada suatu saat, Khalifah Abbasiyah Abu Ja’far al-Manshur, memintanya agar kitab Muwattha’ yang menghimpun hadits-hadits Nabi karyanya dijadikan sumber hukum positif yang akan diberlakukan diseluruh wilayah Islam. Imam Malik menolak, katanya: “ Anda tahu bahwa diberbagai wilayah negeri ini telah berkembang berbagi tradisi hukum sesuai dengan tuntutan kemaslahatan setempat. Biarkan masyarakat memilih sendiri panutannya. Saya kira tidak ada _ocial_ untuk menyeragamkannya. Tidak ada seorangpun yang berhak secara eklusif mengklaim kebenaran atas namaTuhan





ISLAM LOKALITAS

Karakter dan watak Islam sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an adalah sempurna. Kesempurnaan ini harus dilihat pada prinsip-prinsip dasar yang terdapat pada Islam yang sangat lentur dan kemampuannya untuk terbuka dengan peradaban lain di luar Islam. Sejarah Islam telah memperlihatkan suatu dinamika internal dan eksternal dalam memberikan warna terhadap peradaban manusia.
Munculnya Islam sebagai suatu peradaban, bukanlah peristiwa yang bersipat kebetulan, tetapi merupakan suatu rangkaian proses yang dilakukan secara sistematis dalam menghadapkan doktrin Islam dengan suatu setting sejarah. Dalam proses demikian, jelas sekali peran umat Islam dalam melakukan perambahan intelektual, yang kemudian melahirkan pemikiran Islam dalam upaya memberikan respon terhadap berbagai permasalahan atau menjadikan Islam sebagai kekuatan sejarah.
Islam adalah agama yang terbuka terhadap pemikiran diluarnya. Dari perspektif sejarah bisa diketahui bahwa begitu keluar dari Jazirah Arabia dan mendapati kekayaan peradaban dan budaya yang lebih tinggi, tanpa banyak membuang waktu, mengadaptasi dan menjadikannya seperti milik sendiri.
Keterbukaan terhadap peradaban lain dan rasa percaya diri yang kuat terhadap kemampuan menalar tanpa taklid buta, merupakan kunci penting dalam melahirkan produk pemikiran. Sikap semacam inilah yang dianut oleh pemuka imam mazhab terdahulu. Misalnya, Imam Abu Hanifah menyatakan: “mereka (para ulama terdahulu) adalah manusia biasa, dan kitapun manusia. Kita mesti berterima kasih atas karya dan pemikiran mereka, walaupun kita tidak mengikuti pendapat mereka”.
Ajaran normative dan sejarah Islam yang sangat terbuka dan mengapresiasi tradisi local kiranya bisa menjadi modal bagi umat Islam dalam memasuki era multikulturalisme. Setiap manusia, apa dan bagaimanapun tradisinya, menempati posisi sejajar yang patut dihargai dan diakui keberadaannya. Oleh karenanya, bagi Islam, multikulturalisme malah menjadi celah dalam upaya mewujudkan visi Islam yang rahmatan lil alamin.
Wa ba’du, menghadirkan Islam “yang arab” ke suatu masyarakat _ocia  bukan dalam arti menjadikannya sebagai kebenaran tunggal atau menepikan seluruh kebenaran _ocia yang selama ini “menafasi” mereka. Pemaksaan demikian bisa jadi menjerembabkan mereka ke dalam alienasi, keterasingan dalam beragama. Maka ia mesti dihadirkan lebih  dalam arti komplementer, saling melengkapi antara kebenaran bawaan Islam sono dan kebenaran _ocia sini. Tanpa saling menegasi, tapi saling mengafirmasi kebenaran (_ocial maupun potensial) hingga yang muncul adalah kearifan terhadap kebenaran itu sendiri. Pada gilirannya yang terhayati umat adalah Islam yang dekat, yang tidak senjang, yang ramah yang merangkul. Rasanya kok itu yang dihidmati jargon (congkak!) bahwa Islam senantiasa “shalih li kulli zamani wa makanin”..


Mujaddid Lokal

hadis Nabi Muhammad SAW. Akan munculnya “kekeliruan” atau penyimpangan prilaku umat Islam , statika berpikir, dan tercemarnya ajaran Islam di masa yang akan _ocial sebagai akibat langsung atau tidak langsung perjalanan _ocial__n yang sangat panjang  secara evolutif (taklid, bid’ah dan khurafat), ternyata sudah diprediksikan secara akurat oleh Nabi. Asumsi ini secara _ocial__ setidaknya didasarkan pada hadisnya yang berbunyi:
إن الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها دينها...([1]
Berdasarkan hadis ini, jelas bahwa Allah akan mengutus kepada umat Islam pada setiap awal abad seseorang (kelompok)  yang  akan membawa misi tajdi>d  dalam konteks pembaharuan pemikiran keagamaan. Kata kerja yujaddidu mengandung konsep tentang pemberian bentuk kehidupan baru untuk mengubah substansi yang lama, kehidupan yang menyatukan pesan abadi al-Qur’an dengan praktik Nabi Muhammad dan ulama salaf. Mengenai kata tajdi>d (bentuk masdar dari jaddada-yujaddidu), yang diadopsi sebagai salah satu doktrin fundamental dari pembaharuan Islam, mencakup konsep tentang purifikasi, karena misi pembaharuan yang esensial adalah untuk memurnikan Islam dan mereformulasikan secara _ocial__n validitas dan ketakberubahan dogma.
Menurut Maududi mujaddid yang akan muncul setiap abad tidak terbatas. Hal ini didasarkan pada kata “man” yang dipakai di dalam hadis riwayat Abu Dawud tersebut, yang dipahami bisa diartikan untuk bilangan tunggal maupun jamak. Oleh karena itu dalam konteks tajdid ini, mujaddid yang dimaksud dalam hadis tersebut bisa seorang atau lebih, yang menjalankan misinya secara perorangan atau kelompok.
Substansi pemikiran yang dapat disimpulkan dari hadis Nabi ini adalah bahwa lepas dari persoalan siapa saja yang telah dan akan mendapat kehormatan diangkat sebagai pembaharu-pembaharu itu, dan lepas pula dari persoalan apakah misi pembaharuan itu dilakukan oleh seseorang atau satu komunitas secara kolektif, yang jelas  Rasulullah telah mendahului kita  dan memberikan legitimasi tentang perlunya pembaharuan atau penyegaran berkala doktrin Islam agar sesuai dengan perkembangan zaman dan pertumbuhan peradaban.
Atas dasar penjelasan di atas, maka pembaharuan itu sendiri merupakan _ocia yang inherent dalam diri Islam. Bahkan Moshe Sharon menyatakan bahwa kedatangan Islam itu dapat dipandang sebagai gerakan pembaharuan pertama yang amat menakjubkan yang telah menyebabkan terjadinya perubahan yang amat fundamental di kalangan masyarakat Arab ketika itu. Sedangkan gerakan pembaharuan kedua yang juga cukup mengagumkan adalah munculnya kekuasaan Abbasiyah yang telah melahirkan revolusi besar di kalangan umat Islam yang antara lain ditandai oleh terlibatnya komunitas  non-Arab yang secara bersama-sama dengan komunitas Arab telah berhasil menyumbangkan darma baktinya dalam perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat berguna bukan hanya bagi Islam tetapi bagi umat manusia secara keseluruhan. Jika kita sepakat akan pandangan ini, barangkali tidak berlebihan jika dikatakan bahwa masa modern kali ini, hingga batas-batas tertentu dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya Barat. Merupakan pembaharuan ketiga di kalangan umat Islam, yakni satu masa di mana umat Islam diharapkan mampu menginterpretasi kembali doktrin agama dengan memperhatikan perkembangan sains dan teknologi yang berkembang secara cepat.
Menyadari bahwa Islam mempunyai watak dinamis yang selalu mendorong adanya gerakan pembaharuan, maka sulit dipahami jika ada sementara kalangan yang hanya mencoba menekankan pentingnya budaya Barat dalam perkembangan hukum Islam kontemporer. Bahkan mereka beranggapan bahwa modifikasi hukum Islam saat ini semata-mata karena pengaruh nilai-nilai Barat. Dengan tidak mengecilkan pengaruh nilai-nilai Barat, namun harus diingat bahwa tujuan pembaruan hukum Islam bukanlah untuk mengikuti dan meniru hal-hal yang ada di Barat tetapi lebih dimaksudkan untuk membawa umat Islam kejalan yang sesuai dengan ajaran hukum Islam. Atas dasar ini, maka ungkapan “kembali kepada al-Qur’an dan sunnah” merupakan slogan yang selalu dikumandangkan terutama oleh para kaum pembaharu dan menjadi karakteristik umum  dari gerakan pembaharuan di _ocial seluruh dunia termasuk di Indonesia.




KEARIFAN NABI

Nabi itu manusia yang amat luhur, mudah meneteskan air matanya. Pernah suatu saat seorang sahabat dating kepada beliau memberitahukan bahwa ada anak kecil yang meninggal dunia. Waktu itu Rasulullah dating, kemudian beliau mencucurkan air matanya. Beliau tidak sanggup menahan pendritaan anak kecil itu. Begitu pula ketika putranya, Ibrohim meninggal dunia, Rasulullah menangis melihat orang-orang menderita, padahal penderitaan Rasulullah sendiri melebihi penderitaan mereka semua.
Mungkin kalau penderitaan Rasulullah ini berasal dari orang kafir dapoat kita fahami. Misalnya, Rasulullah difitnah, dituduh sebagai tukang sihir, dituding sebagai dukun bahkan dianggap sebagai orang gila. Dibuat opini yang jelek tentang rasul supaya orang orang tidak mau mendengarkannya.
Disamping itu orang kafir pun mengganggu beliau secara fisik. Ketika Rasulullah berada di depan para sahabatnya, beliau diludahi oleh Utbah bin Abi Mu’ith. Rasul saw. Mengusap ludah itu dengan sabar seraya berkata, “suatu saat engakau akan menyesali apa yang kau lakukan. Itulah antara lain penderitaan Rasulullah dari orang-orang kafir.
Namun yang menyedihkan adalah penderitaan Rasulullah yang disebabkan oleh orang Islam sendiri. Misalnya, pada waktu Rasulullah membagikan ganimah kepada sahabatnya, ada yang berteriak, “Berbuat adillah, ya Rasulullah.” Kemudian Rasulullah berkata: “kalau bukan aku yang adil siapa lagi yang akan adil di dunia ini”.








BERSIKAP ARIF TERHADAP BINATANG



حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ سُمَيٍّ مَوْلَى أَبِي بَكْرٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنْ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنْ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِي كَانَ بَلَغَ بِي فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلَأَ خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ أَجْرًا فَقَالَ نَعَمْ فِي كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

Artinya: “Bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “ Selagi seorang lelaki berjalan, tiba-tiba timbullah kehausannya yang sangat. Lalu dia turun ke dalam sumur dan dia minum sebagian airnya, kemudian dia keluar. Tiba-tiba dilihatnya seekor anjing yang menjilat-jilat, dia menjilat tanah basah karena sangat haus. Orang itu berkata: “telah memuncak benar kehausan anjing itu, seperti kehausan yang telah menimpa diriku. Kemudian dia pun mengambil air dengan sepatunya, lalu digigit sepatu dengan mulutnya, lalu naik dari dalam sumur dan memberi minum kepada anjing itu. Karenanya Allah mensyukurinya dan mengampuni dosanya. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, sesungguhnya apakah ada pahala bagi kami yang memberi minum kepada binatang?. Nabi menjawab: pada binatang yang mempunyai hati yang masih basah ada pahalanya.”
Dalam hadis lain Rasulullah melarang kita mengurung binatang hingga mati. (R. Solihin 323.
Terkait dengan hewan (binatang), kita tidak hanya disuruh untuk memeliharanya tetapi juga mengambil pelajaran dan khazanah yang berharga bagi mereka yang mau berpikir. Banyak cerita tentang hewan yang berisi fable-fabel kearifan (seperti Kalilah wa Dimnah), yang merupakan teladan yang par-exellent bagi mereka yang hendak mempelajari etika, estetika,dan keindahan yang terlahir dari jiwa-jiwa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesetiaan dan kemuliaan yang agung. Sebab dalam hidup ini, banyak ajaran Tuhan yang tidak bisa dilihat dari perilaku manusia, namun banyak juga dari komunitas hewan. Betapa para anjing mempunyai dedikasi dan loyalitas tinggi dalam menjaga kepercayaan dan kesetiaan kepada majikan mereka, sementara banyak manusia yang apabila diberi kepercayaan, mereka menodainya dengan ketidaksetiaan, penyelewengan dan pengkhianatan) Sebenarnya dalam kehidupan ini, betapa banyak mutiara berserakan dari ajaran Tuhan, namun apakah kita pernah merenunginya?

KEARIFAN DALAM MENYEMBLIH BINATANG

أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ يَعْقُوبَ قَالَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى قَالَ أَنْبَأَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ الرَّحَبِيِّ عَنْ أَبِي الْأَشْعَثِ عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ إِذَا ذَبَحَ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ MUSLIM
Artinya: “saya mendengar rasulullah saw, bersabda: Sesungguhnya Allah swt. Mewajibkan berlaku ihsan dalam segala hal. Karena itu, jika membunuh (yang dibenarkan syari’ah), bunuhlah dengan cara yang baik, dan jika menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik, tajamkanlah pisau dan jangan membuat hewan sembelihan itu menderita (HR. Muslim).

Hadis ini merupakan dasar agama yang sangat penting. Memuat upaya sungguh-sungguh dalam melaksanakan ajaran islam. Karena ihsan (melakukan sesuatu dengan baik dan benar) dalam suatu perbuatan, adalah keselarasan perbuatan itu dengan tuntutan syara’. Amal perbuatan, adakalanya berhubungan dengan masalah kehidupan manusia di dunia, sikap terhadap keluarga, saudara dan sesame manusia, dan adakalanya berhubungan dengan urusan akhirat, yaitu iman, yang merupakan perbuatan hati, dan Islam yang merupakan perbuatan anggota badan. Barang siapa yang berlaku ikhsan dalam melakukan amal perbuatan yang berhubungan dunia dan akhiratnya, dengan penuh kebenaran dan kesempurnaan, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.  (al-wafi): 119  

KEARIFAN DENGAN TUGAS
22482 حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ دَاوُدَ بْنِ أَبِي صَالِحٍ قَالَ أَقْبَلَ مَرْوَانُ يَوْمًا فَوَجَدَ رَجُلًا وَاضِعًا وَجْهَهُ عَلَى الْقَبْرِ فَقَالَ أَتَدْرِي مَا تَصْنَعُ فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ فَإِذَا هُوَ أَبُو أَيُّوبَ فَقَالَ نَعَمْ جِئْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ آتِ الْحَجَرَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَبْكُوا عَلَى الدِّينِ إِذَا وَلِيَهُ أَهْلُهُ وَلَكِنِ ابْكُوا عَلَيْهِ إِذَا وَلِيَهُ غَيْرُ أَهْلِهِ *
 (رواه احمد)
Artinya: “Jangan kamu tangisi nasib agama Islam jika dia dikuasai oleh ahlinya, akan tetapi tangisilah manakala dikuasai oleh tangan yang bukan ahlinya”.
57 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِنَانٍ قَالَ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ ح و حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُلَيْحٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ حَدَّثَنِي هِلَالُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَطَاءِ ابْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ فَمَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ سَمِعَ مَا قَالَ فَكَرِهَ مَا قَالَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ لَمْ يَسْمَعْ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيثَهُ قَالَ أَيْنَ أُرَاهُ السَّائِلُ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ هَا أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِذَا ضُيِّعَتِ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ *Al-Bukhari
Orang yang melakukan suatu pekerjaan yang bukan pada bidang dan keahliannya tidak akan bermakna apa pun hanya bagaikan orang yang menaruh pasir pada tenmpat yang salah hingga meyebabkan pasir tersebut tidak lebih berharga dariupada sampah. Selain itu juga bagaikan seorang laki-laki yang memakai baju wanita dan seorang perempuan yang memakai baju laki-laki, atau seperti seorang tamu yang mengaku sebagai pemilik rumah, juga bagaikan orang yang berbicara di tengah halayak massa yang tanpa ditanya terlebih dahulu. Sebab meski sebuah pekerjaan bisa dikerjakan oleh banyak orang, namun bila yang mengerjakannya bukan seoarng ahlinya, maka pekerjaan itu tidak akan pernah terselesaikan secara sempurna, bahkan bisa jadi hanya membuahkan kegagalan. Dan inti keberhasilan dan kesuksesan sebuah pekerjaan bukan terletak pada banyaknya orang yang terlibat, melainkan pada profesionalisme dan keahlian para pekerjanya.

Bukankah pepatah mengatakan: Adalah sebuah kebodohan siapa saja yang membebani dirinya dengan sesuatu yang tidak cocok dengan budaya dan karakternya. Pun adalah sebuah kepongahan siapa saja yang membebani dirinya dengan pekerjaan yang bukan bidang dan keahliannya, serta terlebih lagi adalah siapa saja yang melepaskan diri dan tercerabut dari akar sejarah yang telah diwariskan turun-temurun oleh para leluhurnya.

HASIL KARYA SENDIRI
1930 حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ عَنْ ثَوْرٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنِ الْمِقْدَامِ رَضِي اللَّهم عَنْهم عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ *
Artinya: tak ada makanan seseorang yang lebih baik _ocial__ng dengan yang berasal dari hasil keringat sendiri. Sesungguhnya Nabi Dawud AS itu makan dari makanan yang berasal dari hasil keringatnya sendiri. (HE. Al-Bukhari).

Dalam Islam bekerja adalah suatu kewajiban. Tersebutlah kisah pada masa khalifah Umar bin Khattab. Suatu hari sahabat Umar memasuki masjid di luar waktu salat dan menjumpai dua orang yang tengah khusyu’ berdoa. Lalu khalifah bertanya: “Apa yang kamu lakukan sementara orang lain sibuk bekerja?”. Mereka menjawab: “Wahai Amirul mukminin, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bertawakkal pada Allah”. Mendengar jawaban itu Umar pun marah, seraya berkata: “Kalian adalah orang-orang yang malas bekerja, padahal kalian tau bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak” lalu Umar mengusir mereka dab berkata: “tanamkanlah biji ini dan bertawakallah kepada Allah. Dalam al-Mulk ayat 15 Allah berfirman:
uqèd Ï%©!$# Ÿ@yèy_ ãNä3s9 uÚöF{$# Zwqä9sŒ (#qà±øB$$sù Îû $pkÈ:Ï.$uZtB (#qè=ä.ur `ÏB ¾ÏmÏ%øÍh ( Ïmøs9Î)ur âqà±Y9$# ÇÊÎÈ
5660                    Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan Hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.
Diriwayatkan oleh Saad al-Anshari, bahwa suatu ketika, Rasulullah menjumpai seorang sahabat dengan tangan melepuh kehitam-hitaman. Kemudian nabi bertanya, apa yang menyebakan tangan sahabat itu melepuh? Ia menjawab, bahwa akibat dari mencungkil tanah yang keras dengan kampak. Ia berbuat demikian, karena ingin memenuhi kewajiban memberi nafkah terhadap keluarga agar anak dan istrinya tidak kelaparan. Nabi Muhammad segera memegang tangan sahabat yang melepuh itu dan menciumnya. Riwayat ini menunjukkan pada kita betapa wong cilik seakan-akan nista dihadapan kita, sungguh ternyata sangt mulia di hadapan Rasul yang tak segan-segan menciumnya. (159)—hutbah

Begitu juga dijelaskan dalam riwayat bahwa Sunan Kalijaga membangun kesadaran masyarakat tentang arti bekerja dan beramal. Diberantaslah pengangguran, baik pengangguran karena malas beraktifitas ataupun karena adanya ketidak adilan pembagian kerja. Orang mesti bekerja apa saja asalkan layak bagi martabat kemanusiaan. Islam melarang dan mencegah pengangguran. Setiap pekerjaan yang layak bagi kehormatan manusia adalah mulia.
Di sinilah Sunan Kalijaga membesarkan hati kaum pekerja maupun petani, karena mereka mengerjakan pekerjaan yang terhormat dan mulia lagi berfungsi social. Terhormat karena, karena mereka mau bekerja dengan hasil usaha sendiri. Dan berfungsi social karena hasil kerjanya tidk hanya dipergunakan untuk diri sendiri, akan tetapi juga untuk kepentingan orang banyak.


BERBUAT BAIK KEPADA TETANGGA
4485 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ بَشِيرٍ أَبِي إِسْمَعِيلَ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّهُ ذَبَحَ شَاةً فَقَالَ أَهْدَيْتُمْ لِجَارِي الْيَهُودِيِّ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ *Abu dawud

Boleh jadi orang yang hidupnya kelihatan miskin dan sengsara, tetapi tetangganya merasakan manfaatnya.  Atas dasar itu, hidup yang baik menurut Islam adalah hidup yang sanggup mempertahankan iman dan sanggup mengisinya dengan amal saleh. Orang yang saleh adalah bukan orang yang panjang sujudnya, bukan orang yang paling sering naik haji, tetapi orang yang pling banyak manfaatnya kepada orang lain. Ilmunya bisa dinikmati oleh orang banyak. Sdekah harta yang diberikannya terus mengalir meskipun dirinya telah meninggal dunia, dan anak yang dibinanya tumbuh menjadi anak yang saleh yang mendoakannya. (Renungan sufistik…278).




ARIF DALAM BERTINDAK DAN MEMBERI NASIHAT
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ كِلَاهُمَا عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ وَهَذَا حَدِيثُ أَبِي بَكْرٍ قَالَ أَوَّلُ مَنْ بَدَأَ بِالْخُطْبَةِ يَوْمَ الْعِيدِ قَبْلَ الصَّلَاةِ مَرْوَانُ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ الصَّلَاةُ قَبْلَ الْخُطْبَةِ فَقَالَ قَدْ تُرِكَ مَا هُنَالِكَ فَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ أَمَّا هَذَا فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ رَجَاءٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ فِي قِصَّةِ مَرْوَانَ وَحَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ شُعْبَةَ وَسُفْيَانَ  (رواه مسلم)
Artinya siapa saja yang melihat kemungkaran hendaklah ia merubahnya dengan tanganya (kekuasaan hokum atau undang-undang), jika tidak bisa dengan tangan, hendaklah dengan ucapan (teguran, nasehat atau pendidikan), jika tidak bisa dengan  ucapan, rubahlah dengan hati. Cara terakhir ini paling minimal/lemahnya iman.
Semua ulama sepakat bahwa memberantas kemunhkaran hukumnya wajib. Karenanya, setiap orang wajib memberantas kemunkaran yang ada sesuai dengan kemampuan masing-masing, baik dengan tangan, lisan, atau hatinya. Memberantas kemungkaran dengan hati dilakukan jika seseorang tidak mampu memberantas kemungkaran dengan tangan dan lisannya. Ibnu Mas’ud berkata: “mungkin di antara kalian ini ada yang akan mengetahui kemungkaran, tetapi ia tidak mampu memberantasnya. Ia hanya bisa mengadu kepada Allah bahwa ia benci kemungkaran itu.”. Adapun kondisi yang dikatakan lemah atau tidak mampu adalah kondisi di mana dimungkinkan (jika ia mengingkari kemungkaran dengan tangan dan lisan) adanya suatu bahaya yang akan menimpa diri atau hartanya, dan ia tidak mampu menanggung itu semua. Jika kemungkinan ini tidak ada, maka tetap diwajibkan untuk memberantas kemungkaran dengan tangan atau lisan.
Amar ma’ruf nahi munkar adalah hak dan kewajiban bagi setiap orang. Sedamgkan sebuah umat terdiri dari pemimpin dan umatnya. Jika pemimpin berkewajiban melakukan amar ma’ruf nahi munkar kepada rakyatnya, maka rakyat juga berkewajiban melakukan  amar ma’ruf nahi munkar kepada pemimpinnya. Amar ma’ruf dan nahi munkar ini hendaklah dilakukan dengan penuh kebijaksanaan. Dalam memberantas nahi munkar, tidak semestinya menggunakan kekerasan apalagi sampai menimbulkan pertumpahan darah. Yang dituntut sebenarnya adalah saling memberi nasihat, dan inilah sebenarnya inti ajaran islam. Dalam al-Qur’an dijelaskan : “  Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (an-Nahal: 125).
Hikmah tentu disesuaikan dengan kondisi orang yang dihadapi dan perkara yang akan disampaikan. Kadang harus menggunakan bahasa yang lunak  dan basa basi. Kadang juga harus  keras.


Agar nasehat mempunyai pengaruh yang kuat, maka sebuah nasihat harus memiliki syarat-syarat berikut:
a.                                                                       Tema yang tepat
Dalam memberi nasehat ataupun peringatan kepada masyarakat perlu memilih tema yang sangat bermanfaat bagi agamanya maupun dunianya. Tidak hanya berkutat dalam penjelasan berbagai hokum. Namun perlu memilih tema-tema yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat dalam realitas kehidupan sehari-hari.
b.                                                                      Dengan bahasa yang baik
Bahasa yang baik dan jelas akan membantu seseorang untuk lebih mudah memahami apa yang ia dengar, bahkan bahasa yang baik juga lebih mempunyai efek langsung terhadap hati.
c.                Tidak terlalu panjang.
Nasehat yang terlalu panjang dapat membosankan orang yang mendengar, hingga manfaat yang diinginkan tidak bisa dicapai dan berlaku efektif. Rasulullah saw dalam sejarahnya senantiasa memendekkan berbagai khutbah dan nasihatnya.
d.                                                                      Memilih waktu yang tepat.
Rasulullah saw. Tidak terus menerus  memberikan nasihat namun bersifat temporer. Seorang pemberi nasehat harus memperhatikan situasi dan kondisi orang yang akan dinasehati, dia harus menyadari setiap perkataan ada tempatnya dan setiap wacana ada masanya tersendiri.





KEARIFAN DALAM BERBICARA
5559 حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ *Bukhari

Artinya: “Katakanlah dengan baik, bila tidak mampu, diamlah

Dalam al-Qur’an Allah memerintahkan kita berbicara secara efektif. Semua perintah jatuhnya wajib, selama tidak ada keterangan lain yang memperingan. Begitu bunyi kaidah yang dirumuskan usul fiqh. Dari sisi yang lain, al-Qur’an melarang kita melakukan komunikasi yang tidak efektif.
Kita hendknya menyadari bahwa setiap perkataan ada tempatnya dan setiap wacana ada masanya tersendiri.
y7Í´¯»s9'ré& šúïÉ©9$# ãNn=÷ètƒ ª!$# $tB Îû óOÎhÎ/qè=è% óÚ̍ôãr'sù öNåk÷]tã öNßgôàÏãur @è%ur öNçl°; þ_Îû öNÎhÅ¡àÿRr& Kwöqs% $ZóŠÎ=t/ ÇÏÌÈ
  1. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. Annisa’ayat 63

Dalam hadis juga, Rasulullah mendorong kita untuk komitmen terhadap etika-etika-etika yang baik dan perbuatan yang bermanfaat. Dorongan tersebut dilakukan dengan cara menjelaskan kepada kita bahwa di antara tanda kesempurnaan iman seseorang adalah membatasi diri berbicara ayng bermanfaat baginya, baik yang berhubungan dengan urusan dunia maupun urusan akhirat., dan hal-hal yang membawa manfaat bagi masyarakatnya. Seorang muslim tidak akan berbicara seputar hal-hal bisa membuat rasa sakit dan mengarah kepada kerusakan.
Rasulullah sendiri memberi contoh dengan khutbah-khutbahnya. Umumnya khutbah Rasulullah pendek, tetapi dengan substansi yang padat. Ia berbicara dengan wajah yang serius dan memilih kata-kata yang sedapat mungkin menyentuh hati para pendengarnya.  Perkataan yang tidak berguna harus dihindari karena kadang-kadang menjadi ghibah, namimah, fitnah atau mencela orang orang. Maka Rasulullah telah mewanti-wanti dengan kata salamatul insane fi hifzil lisan, keselamatan manusia tergantung pada lidahnya.

KEARIFAN HUBUNGAN ANTARA TUA MUDA
1842 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَرْزُوقٍ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ وَاقِدٍ عَنْ زَرْبِيٍّ قَال سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ جَاءَ شَيْخٌ يُرِيدُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَبْطَأَ الْقَوْمُ عَنْهُ أَنْ يُوَسِّعُوا لَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي أُمَامَةَ قَالَ أَبمو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ وَزَرْبِيٌّ لَهُ أَحَادِيثُ مَنَاكِيرُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ وَغَيْرِهِ *
1843 حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ أَبَانَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ شَرَفَ كَبِيرِنَا حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ نَحْوَهُ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرِنَا *Atturmuzi
Rasulullah telah bersabda, “Tidak termasuk golongan kami yang tidak menghormati generasi tua dan tidak menyayangi yang kecil

Dalam komunitas dan masyarakat manapun, terdiri atas orang tua, pemuda dan anak-anak. Ada senior atau perintis, ada pula yunior atau pelanjut. Semua level itu diperlukan untuk membangun harmoni kehidupan. Setiap individu harus ditempatkan pada jabatan yang sesuai, sebagai lahan aktualisasi diri secara profesionalitas. Masing-masing level memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Wajae, sebab manusia adalah tempat salah dan lupa. Di samping memiliki nalar, juga naluri. Untuk menciptakan suasana yang sejuk, masing-masing individu dituntut untuk tahu diri, berani berkorban, dan bukan memperbanyak tuntutan. Itulah sebabnya dalam Islam hubungan antar yang muda dan yang tua  telah diatur dengan begitu indah. Ada managemen keseimbangan, yakni tauqir (hormat) dan rahmah (kasih _ocial).
.
Dalam hadis ini pihak orang tua lebih dahulu disebutkan, karena sebagai pendahulu lebih berjasa. Merekalah yang pertama babat alas atau menjadi generasi pengawal amal. Satu ungkapan  arab berbunyi, al-fadlu lil mubtadi wa in ahsanal muqtadi (keutamaan itu bagi perintis, sekalipun pelanjut itu lebih baik).
Untuk menjaga harmonisasi relasi tua muda maka disinilah urgennya komunikasi. Komunikasi menjadi hal yang sangat penting untuk menjembatani pemikiran dan pengalaman antar dua generasi. Diperlukan seni dalam proses peralihan dan pewarisan nilai dan amal. Bagaimana agar seorang senior tidak menjadi orang tua yang ingin mempertahankan status quo. Bahkan perjuangan yang telah dilakukan dapat menjadi contoh bagi generasi mendatang. Yakni, berorientasi pada amal, bukan jabatan. Para senior harus terlebih dahulu menjadi tentara aqidah, bukan tentara jabatan, wanita, harta dan kepentingan.

ARIF TERHADAP LINGKUNGAN


Belakangan ini bumi kita Indonesia, seakan tak pernah bosan dan tak henti-hentinya ditimpa musibah dan bencana alam. Musibah berupa pesawat hilang, kereta api tergelincir, kapal laut tenggelam dan terbakar sampai peristiwa teranyar yaitu terbakarnya pesawat beberapa waktu yang lalu. Bencana alam berupa semburan _ocial panas, gempa bumi, tanah longsor, _ocial badai maupun topan sampai banjir yang seolah-olah menjadi tradisi di negeri ini. Sebagai manusia beriman, kita tidak henti-hentinya mempelajari, merenungkan, bertindak terhadap fenomena yang terjadi di bumi ini. Mengapa derita ini? Sebuah pertanyaan pokok dalam situasi batas dan situasi tanpa jalan keluar, di mana bangsa kita seolah-olah sedang sekarat secara soial, politik, ekonomis, maupun peradaban. Dalam konteks ini marilah kita renungi bersama firman Allah:



“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi, sesudah Allah memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
Melalui ayat ini, kita disadarkan bahwa apa yang kita lakukan bisa mengarah pada “perusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya”. Bumi ini diciptakan sebagai tempat manusia untuk hidup di dunia ini dalam rangka persiapan kehidupan selanjutnya termasuk akhirat.
Dalam tafsirran Ibnu Jauzi, makna terperinci dari la tufsiduu fii ardhi ba’da islahiha adalah:1. janganlah berbuat kerusakan di bumi dengan kekufuran setelah Allah memperbaikinya dengan keimanan; (2) janganlah berbuat kerusakan di bumi dengan kemaksiatan setelah Allah memperbaikinya dengan ketaatan, (3) janganlah berbuat kerusakan di bumi dengan kezaliman ataupun diskriminasi setelah Allah memperbaikinya dengan keadilan, 4) janganlah berbuat kerusakan di bumi, niscaya Allah menahan turunnya air hujan dan menghancurkan sawah _ocial dengan sebab kemaksiatan itu,s esudah Allah memperbaiki dengan turunnya hujan dan kesuburan; (5) janganlah berbuat kerusakan di bumi dengan membunuh orang lain (baik karakter,posis maupun jiwanya)  setelah Allah memperbaikinya dengan larangan terhadapnya; (6) janganlah berbuat kerusakan di bumi dengan mendustakan para Rasul sesudah Allah memperbaikinya dengan memberikan wahyu kepada mereka.
Allah mengutus Nabi Muhamad sebagai utusan terakhir dalam tradisi kenbian adalah membawa pesan rahmatan lil alamin, yaitu kemalahatan kemanusiaan universal. Pesan universal ini disampaikan dalam kurun waktu 23 tahun dengan segala dinamikanya, dan kemudian disampaikan oleh para sahabat dan orang-orang salih sebagai pelanjut risalah kenabian (warasatul anbiya). Inti ajarannya terumuskan dalam  5 prinsip dasar dalam agama  (al-usul alhamsah), yakni menjaga agama, jiwa, harta, keturunan dan aql. Ali Yafie menambahkan dengan perlindungan dan pemelliharaan terhadap lingkungan.
Lima hal ini merupakan kemaslahatan dasar  yang menjadi pondasi tegaknya kehidupan umat manusia, menjadi rujukan dari kebutuhan-kebutuhan pokok, yang mempunyai arti kemaslahatan yang mendalam, di mana manusia tidak bisa menjalani kehidupan mereka tanpa yang lima ini.
Lima prinsip dasar agama ini sangat berkaitan dengan kesinambungan kehidupan umat manusia. Baik dari sudut pandangan agama, _ocial, politik, budaya. Sehingga kemaslahatan manusia dan alam lingkungan terwujud dengan sebenar-benarnya sesuai dengan kehendak Tuhan. Di sinilah perlunya bersifat islah dalam setiap kehidupan kita karena akan membuahkan kemaslahatan, dan dilarang ifsad karena akan berujung pada kemudaratan, merujuk pada spirit ayat yang diawal tadi.
Akhirnya perlu kiranya kita melakukan evaluasi, refleksi, aksi dan antisipasi terhadap banyaknya musibah dan bencana alam. Di sekitar kita hidup dan berkembangnya _ocial_ dan penyimpangan, kesyirikan (teologis maupun _ocial), bunuh diri, budaya konsumtif, berlebih-lebih lebihan, memperoleh harta secara tidak halal, terjadinya banjir, pembalakan hutan (_ocial_ logging), eksploitasi kekayaan tambang. Yang kesemuanya ini termasuk kerusakan (fasad0, yang sebenarnya kita dilarang  untuk membuat kerusakan di bumi ini setelah Allah mengutus rasulullah untuk memperbaikinya. Maka sedikit refleksi kebelakang bahwa banyaknya terjadi bencana alam di berbagai daerah, salah satunya (barang kali) kita melanggar larangan Allah, dengan merusak bumi ini. Secara jelas Allah menyatakan dalam al-Qur’an bahwa ketampakan kerusakan di daratan dan lautan sibabkan oleh perilaku manusia yang tidak ramah lingkungan. Tempat-tempat dan ruang-ruang semestinya tempat untuk penampungan air seperti hutan,  kita ambil dan eksploitasi maka air sekarang  mengambil ruang-ruang manusia.
Oleh sebab itu sikap kita terhadap lingkungan adalah bersikaf Islah, sebagaimana konsep ayat tadi.Merusak lingkungan adalah larangan, sementara memperbaiki lingkungan merupakan kewajiban. Kewajiban ini juga memberikan pemhaman bahwa apapun yang kita lakukan untuk perbaikan lingkungan merupakan perwujudan dari alah astu bentuk ibadah kepada Allah.  Karena itu kesempurnaan ibadah seseorang tidak hanya ditentukan oleh kualitas dan kuantitas ibadah yang sering disebut dengan ibadah mahdah tetapi juga harus ibadah gairu mahdah atau _ocial. Salah satunya adalah dengan bertindah islah terhadap keadaan lingkungan, dan saya kira juga bagian dari jihad _ocial. Kayaknya Inilah islam kaffah yang sering kita dengung-dengungkan itu.



4358 حَدَّثَنِي قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنِي سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ إِنَّ نَوْفًا الْبَكَالِيَّ يَزْعُمُ أَنَّ مُوسَى بَنِي إِسْرَائِيلَ لَيْسَ بِمُوسَى الْخَضِرِ فَقَالَ كَذَبَ عَدُوُّ اللَّهِ حَدَّثَنَا أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَامَ مُوسَى خَطِيبًا فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ فَقِيلَ لَهُ أَيُّ النَّاسِ أَعْلَمُ قَالَ أَنَا فَعَتَبَ اللَّهُ عَلَيْهِ إِذْ لَمْ يَرُدَّ الْعِلْمَ إِلَيْهِ وَأَوْحَى إِلَيْهِ بَلَى عَبْدٌ مِنْ عِبَادِي بِمَجْمَعِ الْبَحْرَيْنِ هُوَ أَعْلَمُ مِنْكَ قَالَ أَيْ رَبِّ كَيْفَ السَّبِيلُ إِلَيْهِ قَالَ تَأْخُذُ حُوتًا فِي مِكْتَلٍ فَحَيْثُمَا فَقَدْتَ الْحُوتَ فَاتَّبِعْهُ قَالَ فَخَرَجَ مُوسَى وَمَعَهُ فَتَاهُ يُوشَعُ بْنُ نُونٍ وَمَعَهُمَا الْحُوتُ حَتَّى انْتَهَيَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَنَزَلَا عِنْدَهَا قَالَ فَوَضَعَ مُوسَى رَأْسَهُ فَنَامَ قَالَ سُفْيَانُ وَفِي حَدِيثِ غَيْرِ عَمْرٍو قَالَ وَفِي أَصْلِ الصَّخْرَةِ عَيْنٌ يُقَالُ لَهَا الْحَيَاةُ لَا يُصِيبُ مِنْ مَائِهَا شَيْءٌ إِلَّا حَيِيَ فَأَصَابَ الْحُوتَ مِنْ مَاءِ تِلْكَ الْعَيْنِ قَالَ فَتَحَرَّكَ وَانْسَلَّ مِنَ الْمِكْتَلِ فَدَخَلَ الْبَحْرَ فَلَمَّا اسْتَيْقَظَ مُوسَى قَالَ ( لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءَنَا ) الْآيَةَ قَالَ وَلَمْ يَجِدِ النَّصَبَ حَتَّى جَاوَزَ مَا أُمِرَ بِهِ قَالَ لَهُ فَتَاهُ يُوشَعُ بْنُ نُونٍ ( أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ ) الْآيَةَ قَالَ فَرَجَعَا يَقُصَّانِ فِي آثَارِهِمَا فَوَجَدَا فِي الْبَحْرِ كَالطَّاقِ مَمَرَّ الْحُوتِ فَكَانَ لِفَتَاهُ عَجَبًا وَلِلْحُوتِ سَرَبًا قَالَ فَلَمَّا انْتَهَيَا إِلَى الصَّخْرَةِ إِذْ هُمَا بِرَجُلٍ مُسَجًّى بِثَوْبٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ مُوسَى قَالَ وَأَنَّى بِأَرْضِكَ السَّلَامُ فَقَالَ أَنَا مُوسَى قَالَ مُوسَى بَنِي إِسْرَائِيلَ قَالَ نَعَمْ قَالَ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِي مِمَّا عُلِّمْتَ رَشَدًا قَالَ لَهُ الْخَضِرُ يَا مُوسَى إِنَّكَ عَلَى عِلْمٍ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ عَلَّمَكَهُ اللَّهُ لَا أَعْلَمُهُ وَأَنَا عَلَى عِلْمٍ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ عَلَّمَنِيهِ اللَّهُ لَا تَعْلَمُهُ قَالَ بَلْ أَتَّبِعُكَ قَالَ ( فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا ) فَانْطَلَقَا يَمْشِيَانِ عَلَى السَّاحِلِ فَمَرَّتْ بِهِمْ سَفِينَةٌ فَعُرِفَ الْخَضِرُ فَحَمَلُوهُمْ فِي سَفِينَتِهِمْ بِغَيْرِ نَوْلٍ يَقُولُ بِغَيْرِ أَجْرٍ فَرَكِبَا السَّفِينَةَ قَالَ وَوَقَعَ عُصْفُورٌ عَلَى حَرْفِ السَّفِينَةِ فَغَمَسَ مِنْقَارَهُ فِي الْبَحْرِ فَقَالَ الْخَضِرُ لِمُوسَى مَا عِلْمُكَ وَعِلْمِي وَعِلْمُ الْخَلَائِقِ فِي عِلْمِ اللَّهِ إِلَّا مِقْدَارُ مَا غَمَسَ هَذَا الْعُصْفُورُ مِنْقَارَهُ قَالَ فَلَمْ يَفْجَأْ مُوسَى إِذْ عَمَدَ الْخَضِرُ إِلَى قَدُومٍ فَخَرَقَ السَّفِينَةَ فَقَالَ لَهُ مُوسَى قَوْمٌ حَمَلُونَا بِغَيْرِ نَوْلٍ عَمَدْتَ إِلَى سَفِينَتِهِمْ فَخَرَقْتَهَا ( لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ ) الْآيَةَ فَانْطَلَقَا إِذَا هُمَا بِغُلَامٍ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ فَأَخَذَ الْخَضِرُ بِرَأْسِهِ فَقَطَعَهُ قَالَ لَهُ مُوسَى ( أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِي صَبْرًا ) إِلَى قَوْلِهِ ( فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنْقَضَّ ) فَقَالَ بِيَدِهِ هَكَذَا فَأَقَامَهُ فَقَالَ لَهُ مُوسَى إِنَّا دَخَلْنَا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَلَمْ يُضَيِّفُونَا وَلَمْ يُطْعِمُونَا ( لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا قَالَ هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا ) فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدِدْنَا أَنَّ مُوسَى صَبَرَ حَتَّى يُقَصَّ عَلَيْنَا مِنْ أَمْرِهِمَا قَالَ وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَقْرَأُ وَكَانَ أَمَامَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ صَالِحَةٍ غَصْبًا وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ كَافِرًا *4358


PERINTAH MEMPERMUDAH

 حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي التَّيَّاحِ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَسَكِّنُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

Rasulullah telah bersabda: “Permudahlah dan jangan mempersulit, gembirakanlah dan jangan membuat takut orang”. (Bukhari: 5660).

Kita ketahui bahwa syari’at Allah menghendaki terciptanya kebahagiaan manusia di dunia dan akherat. Karena itulah, terdapat berbagai kemudahan bagi seorang hamba. Allah Swt berfirman:
3 ߃̍ムª!$# ãNà6Î/ tó¡ãŠø9$# Ÿwur ߃̍ムãNà6Î/ uŽô£ãèø9$# (#qè=ÏJò6çGÏ9ur no£Ïèø9$# (#rçŽÉi9x6çGÏ9ur ©!$# 4n?tã $tB öNä31yyd öNà6¯=yès9ur šcrãä3ô±n@ ÇÊÑÎÈ
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (al-Baqarah: 185).

Karena itulah Allah membolehkan berbuka puasa bagi orang yang berpuasa dan melakukan perjalanan atau sakit, membolehkan untuk mengqasar salat bagi orang yang bepergian, membolehkan tayamum bagi orang yang hendak berwudu tetapi tidak menemukan air atau Karen kulitnya tidak boleh terkena air (akrena sakit), dan berbagai hal lainnya yang kemudian disebut oleh para ulama dengan rukhsah (dispensasi).
Berdasarkan pada realitas bahwa Allah memberikan kemudahan kepada hamba-hamba-Nya, dan dari hadist di atas, maka para ulama menyimpulkan kaidah (al-masyaqqah tajlibut taisir) (kesukaran itu menyebabkan adanya kemudahan).
Kaidah ini mempunyai pengertian bahwa ketika seseorng berada dalam satu kondisi yang sangat sulit dan berat baginya untuk melaksanakan kewajiban, maka kesusahan tersebut merupakan penyebab untuk mendapatkan kemudahan dan keringan, hingga bisa menunaikan dengan mudah.
Begitu juga dalam pergaulan sehari-hari kita diminta untuk tidak mempersulit atau menambah sulit urusan orang lain dengan proses dan birakrasi yang njelimet, yang semestinya itu mudah. Prinsip yang dikembangkan mengambil dari spirit agama adalah “alau masih bisa dipermudah untuk apa dipersulit" bukan sebaliknya “kalau masih bisa dipersulit untuk apa dipermudah”.

Arif Terhadap Diri Sendiri
1968 حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرٍو عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِي اللَّهم عَنْهممَا قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَقُومُ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ قُلْتُ إِنِّي أَفْعَلُ ذَلِكَ قَالَ فَإِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ هَجَمَتْ عَيْنَاكَ وَنَفِهَتْ نَفْسُكَ لِعَيْنِكَ حَقٌّ وَلِنَفْسِكَ حَقٌّ وَلِأَهْلِكَ حَقٌّ قُمْ وَنَمْ وَصُمْ وَأَفْطِرْ
 *msulim
2075 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ الْحِزَامِيُّ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنِي ابْنُ إِسْحَقَ حَدَّثَنِي الزُّهْرِيُّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ لَمَّا كَانَ مِنْ أَمْرِ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ الَّذِي كَانَ مِنْ تَرْكِ النِّسَاءِ بَعَثَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا عُثْمَانُ إِنِّي لَمْ أُومَرْ بِالرَّهْبَانِيَّةِ أَرَغِبْتَ عَنْ سُنَّتِي قَالَ لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِنَّ مِنْ سُنَّتِي أَنْ أُصَلِّيَ وَأَنَامَ وَأَصُومَ وَأَطْعَمَ وَأَنْكِحَ وَأُطَلِّقَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي يَا عُثْمَانُ إِنَّ لِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا قَالَ سَعْدٌ فَوَاللَّهِ لَقَدْ كَانَ أَجْمَعَ رِجَالٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ هُوَ أَقَرَّ عُثْمَانَ عَلَى مَا هُوَ عَلَيْهِ أَنْ نَخْتَصِيَ فَنَتَبَتَّلَ *Addarimi
24706 حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ قَالَ دَخَلَتِ امْرَأَةُ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ أَحْسِبُ اسْمَهَا خَوْلَةَ بِنْتَ حَكِيمٍ عَلَى عَائِشَةَ وَهِيَ بَاذَّةُ الْهَيْئَةِ فَسَأَلْتُهَا مَا شَأْنُكِ فَقَالَتْ زَوْجِي يَقُومُ اللَّيْلَ وَيَصُومُ النَّهَارَ فَدَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَتْ عَائِشَةُ ذَلِكَ لَهُ فَلَقِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عُثْمَانَ فَقَالَ يَا عُثْمَانُ إِنَّ الرَّهْبَانِيَّةَ لَمْ تُكْتَبْ عَلَيْنَا أَفَمَا لَكَ فِيَّ أُسْوَةٌ فَوَاللَّهِ إِنِّي أَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَحْفَظُكُمْ لِحُدُودِهِ *Ahmad
Jika Nabi saw. Menegaskan bahwa beliau tidak diutus utuk mengajarkan kerahiban atau monastisisme, yaitu sikap mengingkari kewajaran hidup sebagai cara pengalaman keagamaan, dan oleh nabi saw dikaitkan dengan semangat mencari kebenaran yang lapang (al-hanifiyah al-samhah), karena kerahiban adalah suatu bentuk pengamalan keagamaan yang tidak wajar, tidak alami, dan tidak sejalan dengan fitrah manusia, dengan akibat pengingkaran hak-hak diri dan orng lain. Oleh karena itu kerahiban dapat berjalan sejajar dan berhimpit dengan kefanatikan, keekstriman, dan sikap-sikap pembelengguan diri orang bersangkutan, mungkin tanpa disadarinya.
Maka jika Eric Fromm, selaku psikoanalis, memandang bahwa kesehatan jiwa tergantung kepada sikap pemihakan kepada kebenaran secara tulus, tanpa pembelengguan diri, dan kepada semangat cinta sesame manusia, hal itu tampaknya akan sulit sekali terjadi jika tidak didasarkan atas kepercayaan akan adanya Yang Maha Kasih dan Maha Sayang, yang wujud atau dzatnya tidak lain adalah Dzat yang Maha Benar itu sendiri. Sifat Maha Kasih dan  Maha Sayang (al-Rahman dan al-Rahim) adalah sifat kebenaran mutlak (Tuhan) yang paling banyak disebutkan dalam al-Qur’an. Dan sebuah petunjuk Nabi mengatakan bahwa hendaknya kita mencontoh akhlak Tuhan itu. Jadi cinta kepada kebenaran adalah juga cinta kepada Yang Maha Cinta, dengan sikap yang meluber kepada cinta kepada sesama manusia. Karena itulah, dalam hadist di atas Nabi saw. Menegur Utsman ibn Mazh’un karena telah menelantarkan dirinya sendiri dan keluarganya. Sebab jika seseorang mempunyai hubungan cinta dari Tuhan (habl minallah), maka ia harus pula mempunyai hubungan cinta dari sesame manusia (habl minannas), dua nilai hidup itulah yang bakal menjamin keselamatan manusia.
KEARIFAN DALAM BERBANGSA

حَدَّثَنَا ابْنُ السَّرْحِ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي أَيُّوبَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَكِّيِّ يَعْنِي ابْنَ أَبِي لَبِيبَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ
Artinya: Bukanlah dari kelompok kita yang mengajak kepada asobiyah, bukan yang berperang atas dasar ashabiyah, bukan juga yang mati dengan keadaan (mendukung) ashabiyah (HR. Abu Daud).

Realitas ini majemuk, dan di dalam alam senesta kemjemukan adalah tak terbatas. Tidak ada dua daun dalam satu pohon yang mempunyai struktur yang sama, tidak ada pula dua manusia yang sama. Bahasa mereka adalah berbeda satu sama lain, demikian pula budaya berbentuk aneka ragam. Di sini jelas bahwa pluralitas atau kemajemukan merupakan tekstur dari realitas.
Tanpa mempersoalkan perbedaan makna dan pandangan para pakar tentang kemutlakan unsur “persamaan keturunan” dalam hal kebangsaan, atau melihat realitas bahwa tiada satu bangsa yang hidup pada masa kini yantg semua anggota kasyarakatnya berasal dari keturunan yang sama, tanapa mempersoalkan itu semua dapat ditegaskan bahwa salah satu tujuan kehadiran agama adalah memelihara keturunan.
Al-Qur’an menegaslan bahwa Allah swt. Menciptakan manusia dari satu keturunan dan bersuku-suku (demikian juga rumpun dan ras manusia), agar mereka saling mengenal potensi masing-masing dan memanfaatkannya semaksimal mungkin. Dalam al-Qur’an dijelaskan:

“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (al-Hujurat: 13)

Ini berarti bahwa al-Qur’an merestui penegelompokan berdasarkan keturunan, selama tidak menimbulkan masalah dan perpecahan dengan mengatasnamakan ego etnik ataupun feodalisme, bahkan mendukungnya demi kemaslahatan bersama.
Wakaupun demikian (al-Qur’an mengakui adanya kelompok), namun al-Qur’an juga mensyaratkan bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan sifat dapat digabungkan ke dalam satu wadah atau nasionalisme.
Wawasan 339.
بَاب قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلَاحَ فَلَيْسَ مِنَّا *muslim
1717 حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ وَسَعِيدٍ عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَانِي ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي ثُمَّ قَالَ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِطِيبِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى *muslim

Kearifan Terhadap Seni
2691 حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ قَالَ عَمْرٌو حَدَّثَنِي أَبُو الْأَسْوَدِ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهَا دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ تُغَنِّيَانِ بِغِنَاءِ بُعَاثَ فَاضْطَجَعَ عَلَى الْفِرَاشِ وَحَوَّلَ وَجْهَهُ فَدَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَانْتَهَرَنِي وَقَالَ مِزْمَارَةُ الشَّيْطَانِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ دَعْهُمَا فَلَمَّا غَفَلَ غَمَزْتُهُمَا فَخَرَجَتَا قَالَتْ وَكَانَ يَوْمُ عِيدٍ يَلْعَبُ السُّودَانُ بِالدَّرَقِ وَالْحِرَابِ فَإِمَّا سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِمَّا قَالَ تَشْتَهِينَ تَنْظُرِينَ فَقَالَتْ نَعَمْ فَأَقَامَنِي وَرَاءَهُ خَدِّي عَلَى خَدِّهِ وَيَقُولُ دُونَكُمْ بَنِي أَرْفِدَةَ حَتَّى إِذَا مَلِلْتُ قَالَ حَسْبُكِ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَاذْهَبِي قَالَ أَبمو عَبْد اللَّهِ قَالَ أَحْمَدُ عَنِ ابْنِ وَهْبٍ فَلَمَّا غَفَلَ *
Dari Aisyah berkata: rasulullah saw. Masuk ke rumah saya, di samping saya ada dua perempuan yang sedang memainkan musik dan mendengarkan lagu-lagu yang menceritakan perang Buats (perang di Madinah sebelum kedatangan Islam) kemudian Rasulullah saw. Tiduran di tempat tidur sambil memalingkan wajahnya, lantas masuk Abu Bakar dan menghardikku sambil mengatakan: “Nayanyian syetan ada di rumah Rasulullah”. Maka Rasulullah menatap Abu Bakar, seraya mengatakan: Biarkanlah mereka”. Setelah mereka tidak memperhatikan lagi, aku usir mereka untuk segera keluar rumah.

Sesungguhnya umat islam tidak berbeda dengan umat lain yang hidup dengan karunia akal budi dan perasaan. Dengan kedua hal tersebut setiap manusia mampu berpikir dan merasakan segala hal yang tertangkap oleh panca indera, serta kerkreasi dalam berbagai bentuk ciptaan dan penemuan, baik yang non seni maupun yang bersifat seni. Dengan kata lain sesungguhnya umat Islam memiliki hak dan posisi yang sama dengan umat lain dalam hal seni dan kesenian.
Seni adalah keindahan. Ia merupakan ekspresi ruh dan budaya manusia yang mengandung dan mengungkapkn keindahan. Ia lahir dari sisi terdalam manusia yang didorong oleh kecenderungan manusia kepada keindahan, apapun jenis keindahan itu. Dorongan tersebut merupakan naluri manusia, atau fitrah yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hambanya.
Disisi lain, al-Qur’an memperkenalkan agama yang lurus sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia.
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,  (QS. Al-Rum: 30)

Adalah merupakan satu hal yang mustahil, bila Allah yang menganugerahkan manusia potensi untuk menkmati dan mengekspresikan keindahan, kemudian dia melarangnya. Bukankah Islam agama fitrah? Segala yang bertentangan dengan ftrah ditolaknya, dan yang mendukung kesuciannya di topangnya.
Kemampuan berseni merupakan salah satu perbedaan manusia dengan makhluk lain. Jika demikian, Islam pasti mendukung kesenian selama penampilannya lahir dan mendukung fitrah manusia yang suci itu., dank arena itu pula Islam bertemu dengan seni dalam jiwa manusia, sebagaimana seni ditemukan oleh jiwa manusia di dalam Islam.
Namun dalam ken yataannya, sangat terasa ada keraguan pada sementara kalangan umat Islam untuk memasuki wilayah seni dan berkesenian, baik seni rupa, tari, sastra, atau musik. Keraguan ini tentu ada latar belakangnya, yaitu tafsir atas ajaran Islam yang terkait hal tersebut. Banyak ayat al-Qur’an maupun hadis Nabi yang menurut semangat tekstualnya memang melarang umat Islam melakukan kegiatan kesenian-kesenian tertentu. Selain itu semangat penafsiran oleh para ulama yang penuh kehati-hatian, suatu hal yang sngat bisa dipahami, sering membawa ekses negative berupa larangan terselubung bagi umat Islam untuk masuk wilayah seni dan berkesenian. Padahal seni merupakan wilayah muamalah yang hukum dasarnya adalah mubah (al-aslu fil muamalah al-ibahah hatta yadu addalil al tahrimihi).
Dalam hal hadis-hadis Nabi yang umum dibukukan terkesan bahwa Nabi sendiri seolah harus dibersihkan dari campuran tradisi, ritual, dan seni (termasuk sastra) yang berlaku pada zaman pra Islam. Dikotomi sangat ketat antara pra Islam yang dilukiskan sebagai masa kelam (al-dzulmi) dan masa Islam sebagai masa cahaya (al-nur) atau pra-Islam sebagai kebiadaban (jahiliyah) dan Islam sebagai berkeadaban (tamadun) menguatkan asumsi di atas. Ungkapan pra islam dan masa Islam kemudian menjadi pembatas bukan saja dalam arti masa/waktu, tetapijuga kultur dan setiap aspek kehidupan manusia Arab waktu itu. Apa yang dilakukan dan diajrkan oleh Nabi Muhammad beserta sahabat-sahabatnya seolah sama sekali baru yang belum pernah ada di zaman sebelumnya.
Namun dalam sejarah perkembangan Islam, dalam mengemban kenabian dan kerasulannya, Muhammad ternyata tidak mungkin mengelak dari keterkaitan dengan tatanan dan kecenderungan kehidupan social-politik dan ekonomi yng ada. Muhammad adalah seorng tokoh yang mewarisi kenabian dn ke-tahta-an sekaligus. Ia adalah anbi sekaligus mulk (raja), begitulah kira-kira. Sebagai nabi ia haruslah menyebarkan “khabar langit” ke seluruh penjuru negeri dan mensosialisasikannya ke dalam berbagai qabilah dan bangsa sebagai dasar terpenting dinamika social dan untuk menegakkan kemanusiaan yang telah terlanggar. Dan sebagai mulk, ia mestilah menata, menguatkan bangunan kekuasaan politik Arab yang tercerai berai ke dalam bangunan kekuasaan politik yang besar, menyatu dengan menunjuk pusat. Dalam konteks yng terakhir ini, karena ia pewaris rezim dominant quraisy, maka bangunan kekuasaan politik .  itupun dengan tetap mempertahankan posisi dimana Quraisy  sebagai sentral. Muhammad dalam hal ini, sukses gemilang mempertahankan, bahkan memperkuat dan memperbesar Quraisy sebagai pusat kekuasaan politik Arab.
Misi dan pesan-pesan ilahiyyah berdialog dengan kenyataan hidup sehari-hari, dengan kepentingan social politik, dan ternyata keduanya berdialog dengan baik, bahkan saling menguatkan. Mana yang hanyut dan manapula yang menghanyutkan tidaklah penting didiskusikan di sini. Yang menarik dari itu adalah bahwa baik pesan-pesan Tuhan maupun kenyataan social histories menjadi tidak sempurna jika tidak didialogkan. Dan apa yang terlihat dari Nabi Muhammad dalam hal ini adalah kesuksesan luar biasa, lepas dari ke-Quraisyan, patut diteladani. Muhammad berhasil mempertemukan dan mendialogkan pesan-pesan ilahiyyah dengan kenyataan social Arab waktu itu untuk mencari rumusan ke depan atas dasar kepentingan manusia dan kemanusiaan.


[1]( Abu Daud, Sunan Abi Da>wud, ,”Kita>b al-Mala>h}im”, “Ba>b Ma> Yuz\karu fi Qarn al-Mi’ah” (Beirut: Da>r al-Fikr, 1994), IV:  91.

0 komentar:

coment after read! and comment with ethic!
habis baca jangan lupa comment! comment dengan etika

Recommended Videos

Loading...

Follow by Email | ikuti melalui email