MENYOAL ĀDAM DALAM AL-QUR’AN DAN TEORI DARWIN (Kajian Tematik Berdasarkan Kata-kata Kunci)


MENYOAL ĀDAM DALAM AL-QUR’AN DAN TEORI DARWIN
(Kajian Tematik Berdasarkan Kata-kata Kunci)

tekan control + iklan dibawah ini sebelum lanjut membaca




ABSTRAK
"ADAM itu bukan manusia pertama." Mendengar dan membaca kalimat tersebut, tentunya semua urat syaraf yang di kepala umat Islam akan menegang. Sebenarnya urat syaraf kepala tidak perlu tegang dengan tesis tersebut, karena akan menghabislan energi saja. Bukankah yang perlu dan lebih penting serta utama lagi untuk dilakukan (aulawiyyah) adalah Menyoal Adam dalam al-Qur'an kemudian membenturkannya dengan teori lain seperti Darwin. Hasilnya sudah dapat dipastikan bahwa yang lebih jelas dan kuat argumentasi atau dalilnya adalah yang akan tetap eksis dan yang lain fayadzhabu ghutsaa-an.
Menyoal Adam dalam al-Qur'an di sini akan menggunakan metode penafsiran tematik dengan mengambil beberapa kata kunci. Diharapkan dengan metodologi seperti ini akan melahirkan makna dalam wajah baru atau paling tidak, pemahaman makna akan lebih mendalam (ta'miiq al-fahm).
Hasilnya, dari kun fayakunnya Allah dalam penciptaan Adam terlihat bahwa persoalan Adam merupakan hak pribadi Allah; dimana tidak dapat disamakan dengan manusia pada umumnya yang melalui proses keterlibatan ibu dan bapak. Sedangkan proses penyempurnaan penciptaan manusia adalah tempat untuk mendudukkan teori evolusi Darwin, namun tidak dalam arti horisontal vertikal, tetapi hanya horisontal saja. Sehingga menganut teori evolusi terbatas adalah jalan dan sikap bijak.

Keywords: Ādam, Jā’ilun, Khalīfah, Evolusi

 

* ADI FADLI adalah dosen IAIN Mataram dan sedang mengikuti program doktor dari tahun 2003 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

ANTARAN WACANA
Adam. Kata inilah yang memunculkan kontroversi sebelum dan sesudah ditemukannya teori evolusi Darwin, paling tidak pada dataran tafsir. Adam adalah nama manusia pertama yang diciptakan Tuhan ataukah Adam merupakan kata jenis dari banyak manusia dahulu kala atau dengan kata lain terdapat Adam-adam lain sebelum Adam yang disebut dalam al-Qur’an.
Lalu, siapakah Adam sebenarnya? Ada banyak Adam dalam Bibel, Adam dalam Darwin, Adam dalam Mahmud Abbas al-Aqqad dan lainnya. Oleh karenanya, tulisan ini akan berusaha menyoal Adam dalam al-Qur’an yang berbahasa Arab (sebab al-Qur’an dengan bahasa lainnya bukan al-Qur’an) dengan harapan dapat memberikan sedikit pengetahuan tentang Adam untuk menuju kebenaran sejati. Setelah itu, tulisan ini hendak menyoalnya dengan teori evolusi Darwin, adakah kesamaan atau bahkan terdapat jurang curam yang membedakannya. Dengan ikhtiar ini, semoga dapat diambil manfaat dan pelajaran bagi orang-orang yang cerdas akal dan hatinya.
            Dalam hal menyoal Adam dalam al-Qur’an ini akan menggunakan metode tematik (maudhū’i) dalam bentuknya yang pertama[1] yaitu penafsiran satu surat atau ayat al-Qur’an dengan menjelaskan tujuan-tujuannya secara umum dan khusus, dengan kata lain tema sentral surat atau ayat tersebut, kemudian menghubungkannya dengan ayat-ayat lainnya yang beraneka ragam dengan tema sentral tersebut. Dalam hal ini ayat yang menjadi sumber penafsiran adalah surat al-Baqarah: 30-39 dengan mengambil beberapa kata kunci yaitu Ādam, Jā’ilun, khalīfah. Adapun kitab-kitab tafsir yang digunakan adalah Tafsir Ibnu Katsīr karya Ibnu Katsir, Tafsir al-Qurthubī karya Imam al-Qurthubi, Fī Zhīlālil Qur’ān karangan Sayyid Qutb, dan Tafsir al-Misbāh karya Quraish Shihab.
           
PEMBAHASAN
            Allah mempunyai rahasianya tersendiri mengapa surat al-Baqarah ditempatkan pada urutan kedua setelah Ummu al-Kitāb (surat al-Fatihah), dimana pada surat inilah Allah membicarakan hal-hal besar di antara yang besar-besar. Lihatlah ketika ayat pertama yang memerintahkan untuk beribadah kepada Allah yang menciptakanmu dan orang sebelum kamu[2] sangat berkaitan dengan ayat yang pertama turun yaitu iqra’ bismirabbikalladzī khalaq.[3] Kedua ayat tersebut mempunyai satu kata kunci yaitu Tuhan Allah yang menciptakan, dan pada hal inilah salah satu rahasia mengapa surat Iqra’ tidak ditempatkan pada urutan pertama dalam al-Qur’an.
            Kejelasan penciptaan ini (dalam surat al-Baqarah: 21) berlanjut dengan ayat setelahnya yaitu persoalan tentang Adam.[4] Lihatlah kata “idz” dalam QS. Al-Baqarah: 30 merupakan ism (kata benda) dimana merupakan dhorfu zamān (menunjukkan waktu) dimana kedudukannya adalah sebagai obyek (maf’ūlum bih) dari ayat sebelumnya dalam surat al-Baqarah: 21. Sehingga maknanya adalah alladzī khalaqakum idz qāla rabbuka lilmalāikati.[5]

Ādam
Lalu, dari wujud apa Adam itu ada? Al-Qur’an menjelaskan bahwa Adam sebagai manusia pertama[6] langsung diciptakan dari tanah (thīn). Dalam hal ini Allah menggunakan kata tunggal (mufrad) untuk menunjuk diri-Nya dalam persoalan ini. Lihatlah dalam surat Shad: 71 “Innī khāliqun basyaran min thīn” juga ayat setelahnya ayat 75: “mā mana’aka an tasjuda limā khalaqtu biyadayya”. Hal ini menunjukkan bahwa dalam penciptaan Adam, Allah tidak melibatkan pihak lain sebagaimana kebanyakan manusia pada umumnya yaitu keterlibatan ibu dan bapak. Sedangkan ketika membicarakan produksi manusia pada umumnya, Allah menunjuk dirinya dalam bentuk plural (jama’), lihatlah surat ath-Thin: 4: “laqad khalaqnal insāna fī ahsani taqwīm”. Hal ini menunjukkan adanya keterlibatan selain Allah yaitu ibu dan bapak, dimana akan sangat mempengaruhi bentuk fisik, fisis dan lainnya.[7]
            Dua bentuk penyampain itu (mufrad dan jama’) memberi pemahaman bahwa al-Qur’an tidak membicarakan proses kejadian Adam secara terinci. Perhatikan ayat 59 dari surat Ali Imran yang terjemahan maknanya: “Sesungguhnya misal (penciptaan) `Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia.” Namun al-Qur’an hanya memberitakan bahwa (1) tanah merupakan bahan awal manusia, (2) kemudian disempurnakan bahan tersebut, lalu (3) ditiupkan ruh Ilahi padanya.[8]
            Kata Ādam disebut dalam al-Qur’an sebanyak 25 kali. Penyebutan kata Ādam dalam semua ayat tersebut dalam dikelompokkan menjadi empat tema, yaitu (1) sebagai khalifah dan rasul; (2) dalam hubungannya dengan iblis (syaithan); (3) untuk menyebut manusia secara umum; dan (4) asal penciptaannya. Kata Ādam dalam al-Baqarah: 31 merupakan ta’rīf dari kata khalīfah dalam ayat 30 sebelumnya, sehingga yang dimaksud dari kata khalīfah pada ayat itu adalah Adam. Hal ini sama seperti penyebutan ar-rasūl dalam surat al-Muzzammil: 16 dimana sebelumnya (ayat 15) disebut dalam pengertian yang umum yaitu rasūlan.
            Pengangkatan Adam sebagai khalifah disampaikan Allah dengan bahasa yang penuh rahasia. Penggunaan kata-kata yang mengawalinya mengandung makna tersendiri, dimana kemudian perlu melihatnya lebih lanjut. Kata tersebut adalah kata jā’ilun.

Jā’ilun
            Kata ja’l dengan segala bentukannya mengalami pengulangan sebanyak 346 kali dalam 66 surat.[9] Kata ini menunjuk secara umum tentang seluruh perbuatan.[10] Dalam hal ini sebenarnya terdapat beberapa kata yang senada degan kata ja’l, yaitu khalq, bada’, fathr, shan’, amr, nasya’, bada’. Kata-kata tersebut senada tapi tidak seirama, dalam artian mempunyai pengertian dan maknanya sendiri-sendiri (siyāqul kalām).
Dalam al-Baqarah: 30, kata ja’ilun diartikan hendak menjadikan.[11] Dalam bahasa sederhana dapat diartikan dengan kata mengangkat pada konteks ini. Namun kata ja’l merupakan bentuk kata kerja yang membutuhkan obyek (fi’il muta’addī) dimana mempunyai beberapa pengertian[12], yaitu (1) jika mempunyai satu obyek, maka berarti ijad dan khalq (mengadakan dan menciptakan) (lihat misalnya al-An’am: 1); (2) jika mempunyai dua obyek, maka berarti mengadakan sesuatu dengan pemindahan atau perubahan dari satu keadaan kepada keadaan yang lain, misalnya alladzī ja’ala lakumul ardha firāsyan atau wa ja’alnal laila libāsan; (3) menjadikan atau mengadakan sesuatu dari sesuatu (lih. An-Nahl: 72); (4) penamaan yang dusta (lih. QS. Al-Hijr: 91, az-Zukhruf: 19); (5) menetapkan atau memutuskan untuk sesuatu yang lain, baik benar maupun salah (lih. QS. Al-Qashash: 7).
            Kata ja’l dalam surat al-Baqarah: 30 menggunakan lafaz tunggal (mufrad), dimana terulang sebanyak dua kali. Satunya pada ayat 1 surat Fathir: “alhamdulillahil ladzī fāthiris samā’i wal ardhi jā’ilil malāikati rusulan…”. Kedua kata tersebut berarti yang menjadikan karena merupakan ismu al-faa’il dan mempunyai satu obyek, yaitu sebagai khalifah dalam al-Baqarah: 30 dan sebagai utusan-utusan (penyampai pesan) dalam ayat 1 surat Fathir. Bedanya, satunya memakai penegasan (taukīd) yaitu kata innī sedangkan lainnya tidak. Kedua obyek tersebut diungkap dalam bentuk nakirah (umum) dimana berarti mempunyai pengertian yang luas dengan suatu urusan yang besar.
            Penggunaan kata ja’l dengan segala bentukannya menunjukkan betapa besarnya manfaat ciptaan tersebut. Sehingga kalau pengertian ini kita pakai dalam mengambil pelajaran dalam surat al-Baqarah: 30, maka kita akan sampai pada pemahaman bahwa obyeknya yaitu penugasan sebagai khalifah merupakan perkara besar dengan dukungan potensi besar pula, seperti penguasaan bahasa, pengendalian nafsu, tobat dan lainnya. Hal tersebut dapat dilihat dari rangkaian ayat-ayat setelahnya.
                       
Khalīfah
            Istilah khalīfah pada masa sekarang identik dengan kepala negara. Hal tersebut wajar saja karena penggunaan kata khalīfah secara formal adalah ketika menyebut khalifah Abu Bakar dan diikuti oleh selanjutnya. Namun bisa saja kata khalīfah itu ada sebelum turunya al-Qur’an atau dalam artian ada setua bahasa Arab itu sendiri, karena bagaimana mungkin Allah menurunkan atau memakai ungkapan yang tidak dipahami oleh manusia, walaupun kebenaran sebenarnya ada padanya.
Kata khalīfah dalam al-Qur’an merupakan obyek dimana berarti tugas dan taklīf. Khalīfah adalah bentuk mufrad (tunggal), sedang bentuk pluralnya ada dua, yaitu khalaif dan khulafā’. Kata khalā’if terulang sebanyak empat kali dan khulafā’ sejumlah tiga kali, sedangkan kata khalīfah yaitu dalam bentuk tunggal terulang dua kali, yaitu dalam surat al-Baqarah: 30 dan surat Shad: 26. Semua kata tersebut berasal dari bentukan kata khalf yang berarti di belakang. Sehingga seringkali pemaknaan dari kata khalīfah adalah sebagai wakil, pengganti[13], dimana yang menggantikan selalu berada di belakang. Sedangkan dalam arti yang lain, al-Raghib al-Isfahani memberikan definisi yaitu melaksanakan sesuatu atas nama yang digantikan, baik bersama yang digantikannya maupun sesudahnya.[14]
            Menarik untuk diperhatikan bahwa kata khalīfah dalam bentuk tunggal terdapat dalam dua ayat, dimana redaksinya hampir mirip, juga dalam makna dan konteks uraian yaitu pertama, dalam konteks Adam Innī jā’ilun fil ardhi khalīfah” dan kedua, dalam konteks Daud (947-1000 SM) Innā ja’alnāka khalīfatan fil ardhi”. Tentunya kedua bentuk redaksi tersebut bukan tanpa arti. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata khalīfah untuk Adam digunakan kata innī yaitu dalam bentuk tunggal yang berarti akan mengangkat, sedangkan untuk Daud digunakan bentuk plural yaitu innā yang berarti telah menjadikan kamu. Sebagaimana dalam hal penciptaan manusia dari tanah (innī khāliqun), Allah juga memakai redaksi sepertinya untuk menunjuk tidak adanya keterlibatan orang lain selain Allah sendiri dalam hal pengangkatan Adam sebagai khalifah. Hal ini dapat dipahami juga karena hal tersebut hanya baru berupa rencana.
Berbeda halnya dengan penggunaan kata plural (innā), dimana menunjuk kepada adanya keterlibatan selain Allah dalam hal pengangkatan Daud sebagai khalifah yaitu masyarakat (pengikut-pengikutnya). Konsekuensi dari hal ini adalah bahwa seorang khalifah (Daud dan semua khalifah lainnya) dituntut untuk memperhatikan kehendak rakyatnya dan tentunya dalam bingkai kebenaran dan kebaikan.[15]
Pengangkatan seorang sebagai khalifah tentunya disertai karena adanya potensi besar pada dirinya. Lihatlah misalnya pengangkatan Adam, dimana sebelum ayat al-Baqarah: 30 didahului dengan penundukan bumi dan seisinya untuk manusia (lihat ayat: 29). Hal ini menandakan bahwa memang penciptaan kosmos lebih dahulu daripada pencitaan manusia. Faktanya juga, Adam diajarkan nama-nama (wa ‘allama Ādamal asmā’ kullahā). Potensi untuk menjalankan tugas kekhalifahan di muka bumi ini didukung oleh pengetahuan, kesadaran diri dan lainnya.[16] Hal ini sejalan dengan hikmah dan pengetahuan yang diajarkan Allah kepada Daud yang telah mengalan Jalut “wa ātahullāhul mulka wal hikmata wa ‘allamahu ma yasya’u” (QS. Al-Baqarah: 251).
Oleh karenanya, dapat dipahami bahwa Daud diberi kekuasaan mengelola wilayah tertentu (sebagai raja Israel). Makna ini, secara politis sama dengan penggunaan kata khulafā’ dalam ayat-ayat al-Qur’an lainnya. Berbeda dengan kata khalā’if yang menunjuk sejumlah orang yang tidak memiliki kekuasaan poltik. Jelasnya bahwa kekhalifahan dengan menggunakan bentuk jama’ tidak dapat terlaksana tanpa adanya keterlibatan dan dukungan dari orang lain, dimana berbeda juga dengan kata khalīfah dalam bentuk mufrad yang mempunyai pengertian kekhalifahan oleh setiap diri.[17]
           
Ādam, jā’ilun, khalīfah (innī jā’ilu Ādam fil ardhi khalīfah)
Merujuk kata sebelum khalīfah yaitu inni jā’ilun yang artinya 'Aku akan menjadikan,' memberi isyarat bahwa pemahaman para malaikat tentang Adam (yang dijelaskan ayat setelahnya) adalah dalam bingkai prosesi hikmah. Dalam bahasa sederhanya, para malaikat bertanya, "apa hikmah penciptaan Adam sebagai khalifah?" Jika hanya sebagai hamba (ābid) maka kami adalah hamba-hamba-Mu yang selalu bertasbih dan mensucikan-Mu.[18] Dari sinilah kemudian banyak para cendekiawan menarik kesimpulan bahwa penciptaan manusia bukan hanya sebagai hamba saja, namun sebagai perpanjangan tangan dari Allah yaitu sebagai khalifah.  
Dari mana malaikat mendapat pengetahuan bahwa manusia akan merusak dan saling mengucurkan darah. Dari hadits yang dijelaskan oleh Ibnu Abbas bahwa dahulunya jin 200 ribu tahun sebelum adanya manusia menghuni bumi, dimana mareka merusak dan saling membunuh.[19] Sebenarnya pertanyaan para malaikat itu adalah hal yang wajar, dimana pengetahuan mereka hanya sebatas pengetahuan yang diberi oleh Allah saja, berbeda dengan manusia yang disertai dengan akal, fitrah. Faktanya adalah pengakuan mereka akan ketidaktahuannya pada ayat 33 setelahnya, juga dalam surat at-Tahrim: 6: “Tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
            Ayat setelah 30 surat al-Baqarah dapat dikatakan sebagai sebab atau prosesi penurunan Adam dan istrinya ke muka bumi. Hal ini merupakan perwujudan dari kehendak Allah yang akan menjadikannya sebagai khalifah. Lalu, mengapa mesti pertentangan itu, godaan dari syaitan (iblis)? Sayyid Qutb memberi jawaban bahwa hal itu dilakukan adalah untuk memunculkan potensi manusia dalam dirinya, sebagai latihan dalam menghadapi godaan, merasakan akibatnya, menelan penyesalan, mengerti siapa musuhnya, dan sesudah itu berlindung ke tempat yang aman. Karena dengan pengalaman-pengalaman inilah (sebagaimana halnya Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw) akan menuntun manusia dalam menjalankan tugas kekhalifahannya.[20]
            Selanjutnya, jika kita melihat keterkaitan konteks ayat al-Baqarah: 30 tersebut dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, maka kita akan dapat (paling tidak menggambarkan walaupun tidak sepenuhnya benar) memberi persepsi bahwa manusia sebelum tugas kekhalifahannya diberikan atau ditundukkan baginya bumi serta segenap isinya, lalu kemudian pada akhir ayat disebutkan penegasan untuk menegakkan kebenaran yang telah ditetapkan oleh Allah dan tidak mencampurinya dengan kebatilan, mendirikan shalat (hubungan dengan Allah), menunaikan zakat (hubungan dengan sesama) dan mengelola bumi (hubungan dengan alam).
            Keterkaitan ayat-ayat tersebut sama halnya juga dalam Shad: 26 yaitu pengangkatan Daud sebagai khalifah. Yaitu diawali dengan perselisihan dua orang kemudian meminta Daud untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang salah. Tidak cukup itu saja, namun ditambah dengan “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus”. Konteks ayat tersebut kemudian diakhiri dengan perintah penegakan hukum secara benar (menurut hukum Allah) dan tidak mengikuti hawa nafsu.
            Kedua konteks keterkaitan ayat tentang Adam dan Daud tersebut memberikan gambaran potensi dan bagaimana seorang khalifah itu menggunakannya. Muhammad Bagir Sadr memberi arti kekhalifahan dimana mempunyai tiga unsur yang saling terkait, yaitu (1) manusia (khalifah); (2) alam raya (ardh); dan (3) hubungan manusia dengan alam dan segala isinya, termasuk hubungan manusia dengan manusia. Quraish Shihab lalu menambahkan dua unsur lagi dari ketiga unsur tersebut, yaitu (1) penganugerahan dari Allah (innī jā’ilun fil ardhi khalīfah), dan (2) penawaran dari-Nya yang disambut dengan penerimaan oleh menusia, lihat surat al-Ahzab: 72): “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. [21]
            Kezaliman, kebodohan, merusak, saling membunuh marupakan kata-kata yang merangkai ungkapan tugas kekhalifahan tersebut. Kata tersebut memberi pemahaman bahwa tidak semua manusia berbuat seperti itu, tentu ada yang baik, juga ada yang melakukan perbuatan merusak tersebut. Sebenarnya, ketika manusia sebagai khalifah, maka mestinya ia adalah majikan bagi yang lainnya, bukannya sebaliknya materi yang menuntun manusia. Juga sebagai khalifah, manusia memegang kendali, merekalah yang membuat perubahan, menata bentuk bumi, memodifikasinya dan menentukan arah tujuannya. Sayyid Qutb mengatakan bahwa “perjanjian untuk menjadi khalifah di muka bumi, dilaksanakan dengan penerimaannya terhadap petunjuk Allah dan keterikatannya dengan manhaj-Nya di dalam kehidupan.”[22] Allah berfirman yang arti maknanya: “kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”


TEORI EVOLUSI DARWIN
Semua organisme, yang meliputi seluruh tumbuhan dan hewan yang ada dan pernah ada, berkembang dari beberapa atau bahkan satu bentuk yang sangat sederhana, melalui proses penurunan dengan modifikasi.[23]

“Manusia berasal dari binatang, jelasnya dari kera.” Itulah bahasa kasar teori evolusi yang dikumandangkan oleh Charles Darwin. Sebenanya Darwin (1809-182) bukanlah orang yang pertama menyuarakan tentang teori evolusi manusia. Ada banyak orang sebelumnya, seperti Lamarck (1774-1829).
            Evolusi atau evolution berarti perkembangan, dimana dalam terminologi ilmu sejarah diartikan sebagai perkembangan sosial, ekonomis, politis, yang berjalan sedikit demi sedikit, tanpa unsur paksaan.[24] Sedangkan dalam istilah ilmu alam diartikan sebagai perkembangan beransur-ansur dari benda yang sederhana menuju benda yang lebih sempurna.[25]
Istilah yang terakhir inilah makna evolusi yang banyak dipakai. Dalam arti ini pula evolusi yang dimaksud oleh Lemarck yaitu kehidupan berkembang dari tumbuh-tumbuhan menuju binatang, dan dari binatang menuju manusia. Datanglah setelahnya Charles Darwin dengan bukunya The Origin of Species (1859) mengatakan bahwa semua jenis binatang berasal dari satu sel purba. Pandangannya ini diperkuat dengan ditemukannya Manusia Neanderthal tahun 1856.[26] Berbeda halnya dengan pendapat Ernst Heinrich Haeckel yang mempopulerkan teori Darwin bahwa sel-sel purba itu diciptakan oleh Tuhan.[27]
Lebih heboh lagi ketika ia menerapkan teorinya, dimana binatang yang paling maju adalah kera, dengan mengalami proses struggle of life, sedikit demi sedikit mengalami perubahan menuju jenisnya yang paling sempurna. Sederhananya dapat dikatakan bahwa binatang (kera) menjadi manusia. Lain lagi halnya dengan Jacque Monod yang menyatakan dalam bukunya Le Hasard et Necessite (Kebetulan dan Keharusan) pada tahun 1970 bahwa evolusi manusia berjalan atas dasar ‘kebetulan’ yang disatukan dengan unsur ‘keharusan’.[28] Proses struggle of life  ini dijelaskan oleh Darwin dalam bukunya On The Origin of Species[29] sebagaimana yang dikutip oleh Bucaille:
“Maka, karena semakin banyak individu yang dilahirkan bukannya yang mungkin bisa bertahan hidup, pastilah terjadi perjuangan untuk mempertahankan eksistensi antara satu individu dan individu lain dari spesies yang sama, atau individu lain dari spesies yang berbeda, atau kondisi-kondisi fisis kehidupan… karena itu, dapatkah diangga mustahil, setelah kita lihat bahwa variasi-variasi yang bermanfaat bagi manusia telah benar-benar terjadi, bahwa variasi-variasi lain yang bagaimanapun bermanfaat bagi tiap makhluk dalam perjuangan hidupnya yang keras dan kompleks, kadang-kadang terjadi dalam jangka masa beribu-ribu generasi? Jika hal semacam itu terjadi, dapatkah kita meragukan (mengingat bahwa lebih banyak lagi individu yang dilahirkan dibandingkan yang dapat bertahan hidup) bahwa individu-individu yang memiliki kelebihan, sekecil apa pun, atas yang lain-lainnya, akan mendapatkan kesempatan terbesar untuk bertahan hidup dan melahirkan keturunan mereka? Di lain pihak, kita mungkin merasa pasti bahwa setiap variasi yang tidak menguntungkan walau sedikit akan mendatangkan kehancuran. Terlestarinya variasi-variasi yang menguntungkan dan tertolaknya variasi-variasi yang tak menguntungkan, saya namakan Seleksi Alam.”

            Lebih jelas dan ringkasnya, T. Jacob mengungkap beberapa hal pokok tentang teori evolusi, yaitu sebagai berikut:[30] bahwa evolusi tidak berasal dari biologi, tetapi dari humaniora dan sudah dipakai jauh sebelum Darwin. Dalam biologi, pemakaian istilah evolusi mulai pada abada XVII, banyak teori evolusi yang sudah ada, namun yang terkenal adalah oleh Lamarck dan Darwin, dimana kedua teorinya pun berevolusi sehingga muncul neo-Lamarckisme dan neo-Darwinisme. Teori evolusi yang umum dipakai sekarang adalah teori biologi atau synthesis, yang mulai bersemi pada paruh pertama abad ini dan dikukuhkan pada pertengahan abad ini, oleh beberapa ahli genetika, peleontologi, taxonomi dan lainnya.
            Teori Darwin dikemukakan bersama dengan teori Wallace pada tahun 1858, dengan tekanan utama pada seleksi alam. Darwin terpengaruh oleh Malthus dan Spencer, dan mungkin juga oleh Linneaus. Tidak ada disebut-sebut tentang evolusi manusia dalam Origin of Species. Debat Wilberforce – T. H. Huxley memperngaruhi penolakan dan penerimaan teori Darwin. Perlu diingat bahwa pada masa Darwin genetika belum ada dan ia belum mengetahui adanya fosil manusia.
            Dalam teori synthesis, evolusi diartikan perubahan frekuensi gena dari generasi ke generasi. Perubahan ini disebabkan oleh empat faktor evolusi. Dari jenis evolusi, mikro evolusi merupakan fakta, dapat dilihat dan dieksprementasi. Spiesiasi juga ada fakta-faktanya, tatapi makro dan mega evolusi merupakan teori yang didirikan di atas bukti-bukti paleontologis, bukti-bukti tidak langsung dan ekstrapolasi mikro evolusi. Teori Darwin juga dipengaruhi oleh semangat masa dan tingkat ilmu pengetahuan pada umumnya. Beberapa aspek teori Darwin suvival of the fittest. Mekanismenya ada yang dibantah sekarang atau disesuaikan dengan tingkat ilmu pengetahuan dan semangat masa.
            Pertentangan antara ilmu pengetahuan dan agama dahulu turut memegang peranan dalam berkembangnya teori tentang evolusi manusia. Karena soal ini menyangkut manusia, maka ia bermuatan emosi. Dalam menerangkan asal-usul manusia, Darwin memakai model primatnir – manusia dan mata rantai yang tidak ada. Teori evolusi sekarang ditentang oleh penemuan baru dalam genetika dan paleontologi, teori kreasi, Michurinisme dan lain-lain. Sedangkan teori evolusi manusia sekarang didasarkan atas penemuan paleoanthropologi, genetika dan ekologi, primatologi dan ethologi, arkeologi dan ethnografi, serta kronometri.
            Teori evolusi, seperti juga ilmu-ilmu lain adalah cara berpikir untuk menerangkan gejala dan peristiwa alam dan hayat serta mencoba memprediksinya. Karena fakta yang tidak lengkap maka kebenaran yang pasti tidak diketahui. Pemahaman evolusi dan mekanismenya yang mendalam sangat mengesankan dan menyadarkan manusia akan kemahabesaran Tuhan.

ADAM: DI ANTARA AL-QUR’AN DAN DARWIN
            Sebenarnya teori yang diungkap oleh Darwin dan kawan-kawan bukannya tidak menuai kritikan yang tajam dan terpercaya secara ilmiah. Namun gema di telinga kita masih terasa keras bahwa hanya teori Darwin masih berlaku dan berjalan di setiap sudut lorong-lorong desa kecil kita. Oleh karenanya bias dari gema tersebutlah yang perlu diketahui lebih lanjut.
Ketika kebenaran ilmiah harus diakui identitasnya –walaupun relatif-, maka semua orang termasuk agama dituntut untuk membuat pernyataan sikap. Dalam menyikapi teori evolusi Darwin ini, ada tiga sikap yang muncul, yaitu pertama, menerima teori evolusi, kedua, moderat yaitu menganut teori evolusi terbatas, dan ketiga, menolak sama sekali.
Mungkin sikap moderat adalah jalan tengah, dimana secara garis besar mengakui bahwa tumbuh-tumbuhan atau binatang atau manusia, selama ribuan dan jutaan tahun, benar-benar mengalami perubahan yang tidak sedikit. Namun tetap menolak adanya penyebrangan tingkatan makhluk yang satu menuju tingkatan makhluk lainnya. Artinya dari tumbuh-tumbuhan menuju binatang dan dari binatang menuju manusia. Perubahan yang dimaksud adalah terbatas hanya pada dataran tingkatannya saja, artinya secara horizontal, dan bukannya vertikal.[31]
            Terlepas dari kontroversi dan sanggahan terhadap teori Darwin, mempersoalkan konsep Adam dalam al-Qur’an ke dalam teori Darwin sebenarnya tidaklah atau kurang pas, karena bagaikan menggabungkan antara keimanan dengan ketidakimanan terhadap Tuhan. Di satu sisi, Adam dipahami sebagai manusia pertama yang diciptakan oleh Allah dari tanah, sedangkan pada sisi lain, manusia dalam bentuknya yang sekarang tercipta dari proses yang panjang, ribuan, jutaan dan bahkan miliyaran tahun dari sesuatu yang pernah ada sebelumnya yaitu tumbuhan menjadi hewan dan hewan menjadi manusia.
            Terdapat kesatuan pandangan bahwa sebelum manusia diciptakan atau tercipta telah ada di muka bumi tumbuh-tumbuhan dan hewan. Dari hal inilah kemudian muncul perbedaan melihat realitas, antara yang imani dan atheis. Namun sebenarnya prosesi penciptaan Adam terdiri dari tiga tingkatan sebagaimana yaitu dari tanah yang kemudian disempurnakan dan ditiupkan ruh ilahi padanya.
Proses kedua (penyempurnaan) dari penciptaan manusia itulah yang sering menjadi permasalahan. Al-Farabi (783-950 M), Ibnu Maskawaih (w. 1030 M), Muhammad bin Syakir al-Kutubi (1287-1363 M), Ibnu Khaldun (1332-1406 M) merupakan di antara deretan ulama muslim yang berpendapat bahwa manusia diciptakan melalui fase atau evolusi tertentu dan bahwa ciptaan Allah mempunyai tingkatan-tingkatan tertentu. Kesimpulan ini jauh ada sebelum lahir teori Darwin (1804-1872 M), dimana pendapat ini tidak sepenuhnya sama dalam rincian teori evulusi yang dirumuskan Darwin.[32]
Muhammad Abduh dan Abbas al-Aqqad[33], ulama Mesir dan ilmuwan menambahkan bahwa jika teori evolusi Darwin nyata kebenarannya secara ilmiah, maka tidak ada alasan bagi kaum Muslim untuk tidak menerimanya. Namun hal yang jelas perlu diingat juga, kebenaran ilmiah akan terus berkembang menuju kebenaran mutlak.
Secara jelas memang Darwin tidak pernah menyebutkan tentang evolusi manusia, dan ia tidak pernah serius mendefinisikan arti ‘spesies’ dalam teorinya, bahkan tidak juga dalam daftar kata-kata sulit yang ada pada penutup buku On the Origin of Spesies,[34] dan apalagi akan menyebut kata-kata Adam, lebih lagi Adam sebagai manusia pertama. Namun walaupun begitu, sikap moderat yaitu menganut teori evolusi terbatas mungkin bisa dijadikan jalan terbaik dalam menyatukan kedua pendapat yang berbeda tersebut yaitu antara al-Qur’an dan teori Darwin. Dalam ilustrasi di bawah ini,[35] kiranya dapat menggambarkan teori evolusi terbatas yang hanya mengakui mutasi dalam arti horisontal dan tidak ada evolusi dalam artian yang vertikal.
 









           
Teori evolusi mutlak, mengajarkan adanya evolusi dalam arti horisontal maupun vertikal. Ada penyebrangan antara tingkatan makhluk.


 












PENUTUP
            Adam diciptakan dari tanah dengan lafaz Tuhan Allah kun fayakūn, dimana tidak dijelaskan di dalam al-Qur’an bagaimana detail proses kejadiannya sebagaimana kebanyakan manusia lainnya yang lahir dari rahim seorang ibu. Penciptaan Adam tidak melibatkan siapapun selain Allah sebagai manusia pertama untuk tugas besar yang tidak mampun dipikul oleh langit dan bumi yaitu sebagai khalifah disamping sebagai hamba.
            Karena khalifah adalah tugas besar, maka Adam sebagai manusia diberikan bumi beserta isinya, juga diilhamkan baginya kemampuan berkomunikasi yaitu berbahasa. Sedangkan godaan dan lainnya adalah sebagai motivator yang menggerakaktifkan potensi lain dalam diri Adam untuk selalu melaksanakan kekhalifahan dalam bingkai-Nya.
            Khalifah, secara umum adalah siapa yang diberi kekuasaan mengelola suatu wilayah, baik terbatas maupun luas. Karena khalifah berpotensi untuk melakukan kesalahan akibat mengikuti hawa nafsu, maka Allah memperingatinya untuk tetap berjalan dalam aturan-Nya. Logisnya, jika yang memberi jabatan khalifah adalah Allah, maka harus mengikuti hukum-Nya yang mutlak benarnya dan jika yang mengangkat itu adalah masyarakat, maka harus pula mengikuti kehendaknya dalam kebenaran dan kebaikan, karena manusia hanya mempunyai kebenaran relatif.
            Menempatkan konsep Adam dalam al-Qur’an ke dalam teori Darwin merupakan permasalahan keimanan dan ketidakimanan. Namun terlepas dari itu, menganut teori evolusi terbatas merupakan jalan dan sikap bijak. Proses penyempurnaan penciptaan manusia adalah tempat untuk mendudukkan teori evolusi Darwin, namun tidak dalam arti horisontal vertikal, tetapi hanya horisontal saja.
            Akhirnya, perlu adanya proses pemahaman (tafhim) oleh ulama kepada umat tentang sebuah kebenaran, karena sifat taqlid, nunut pada masyarakat pada umumnya masih sangat tinggi. Juga perlu disampaikan di sini bahwa susunan surat dan ayat-ayat dalam al-Qur’an sungguh sangat sistematis. Hal ini sekaligus sebagai sanggahan bagi pendapat yang menyatakan al-Qur’an itu tidak sistematis. Apapun kesimpulan dari semua pembahasan ini hanya merupakan sebuah penafsiran manusia dengan segala keterbatasannya terhadap Realitas Mutlak. Yang memahami benar dan betul firman-Nya adalah Allah Tuhan semesta alam itu sendiri. Penafsiran tidak pernah berhenti pada satu titik, ia akan terus berlanjut sejalan dengan berubahnya ruang dan waktu. Semoga bermanfaaat. Amien.








DAFTAR BACAAN

A. Husain, The First Man, India: New Era Publisher, 1988.
Al-Qurthubi, “Tafsir al-Qurthubi” dalam CD Program al-Qur’an
A.W. Munawwir, Kamus al-Munawwir, Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1997, edisi kedua.
Bey Arifin, Rangkaian Cerita dalam al-Qur’an, Bandung: PT al-Ma’arif, tt.
Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam (Ringkas), (terj. Ghufron A. Mas’adi), (Jakarta: PT Rja Grafindo Persada, 2002), cet. Ke-3.
CD Program I’rabul Qur’an
Dawam Raharjo, Ensiklopedi al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci, Jakarta: Paramadina, 2002, cet. Ke-2.
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Yayasan Penyelenggaran Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an, 1971.
Machnun Husein (penyunting), Asal-usul Manusia dalam Polemik, Yogyakarta: Yogyakarta Offset, 1983.
Maurice Bucaille, Asal-usul Manusia Menurut Bibel, Al-Qur’an Sains, Bandung: Mizan, 1998, cet. Ke-12.
Muhammad Fuad Abd al-Baqiy, Mu’jam al-Mufahras li-alfāz al-Qur’ān al-Karīm, Beirut: Dar al-Fikr, 1987
Musa Asy’ari, Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam al-Qur’an, Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam, 1992.
Osman Bakar (ed.) Evolusi Ruhani: Kritik Perenialis atas Teori Darwin, Bandung: Mizan, 1996.
Al-Raghib al-Ashfahani, Mu’jam Mufradāt Alfāz al-Qur’ān, Beirut: Dar al-Fikr, 1972
Sirajuddin Zar, Konsep Penciptaan Alam dalam Pemikiran Sains dan al-Qur’an, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1997, cet. Ke-2.
Sayyid Qutb, Tafsir fi Zhilalil Qur’an jilid 1, (terj. As’ad Yasin, et. al.), Jakarta: GIP, 2000, cet. Ke-1.
Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1999, cet. Ke-19.
____________, Wawasan al-Qur’an, Bandung: Mizan, 2000, cet. Ke-10





[1] Sedangkan bentuk yang kedua adalah dengan menentukan tema tertentu, baru kemudian mengumpulkan semua ayat-ayat dalam al-Qur’an yang berhubungan dengan tema tersebut dan sedapat mungkin mengurutkannya berdasar masa turunnya dengan memperhatikan historisitasnya, kemudian menjelaskan makna ayat-ayat tersebut sambil melihat keterkaitan ayat satu dengan lainnya, lalu diambil pengertian umum tentang tema tersebut. lih. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1999), cet. Ke-19, 114-118, 156.
[2] Qs. Al-Baqarah (2): 21
[3] Qs. Al-Alaq (96): 1-5
[4] Qs. Al-Baqarah (2): 30
[5] Al-Qurthubi, “Tafsir al-Qurthubi” dalam CD Program al-Qur’an,
[6] Lihatlah, al-Qur’an banyak menggunakan kata Bani Adam, Dzurriyat Adam untuk menunjuk manusia, disamping kata basyar, ins, nas, unas.
[7] Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2000), cet. ke-10, 280-281.
[8] Lih. QS. Al-Hijr (15): 28-29, Qs. Shad (38): 71-72.
[9] Muhammad Fuad Abd al-Baqiy, Mu’jam al-Mufahras li-alfaz al-Qur’an al-Karim, (Beirut: Dar al-Fikr, 1987), 170-175.
[10] Al-Raghib al-Ashfahani, Mu’jam Mufradat Alfaz al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Fikr, 1972), 92.
[11] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Yayasan Penyelenggaran Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an, 1971), 13.
[12] Sirajuddin Zar, Konsep Penciptaan Alam dalam Pemikiran Sains dan al-Qur’an, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1997), cet. ke-2, 93-101.
[13] Lih. Dawam Raharjo, Ensiklopedi al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci, (Jakarta: Paramadina, 2002), cet. Ke-2, 347.
[14] Quraish Shihab, Membumikan...., 157.
[15] Quraish Shihab, Membumikan...,. 159.
[16] Lih. Sayyid Qutb, Tafsir fi Zhilalil Qur’an jilid 1, (terj. As’ad Yasin, et. al.), (Jakarta: GIP, 2000), cet. ke-1, 70-72.
[17] Lih. Quraish Shihab, Membumikan…. 157-158.
[18] Ibnu Katsir, “Tafsir Ibnu Katsir” dalam CD Program al-Qur’an.
[19] Ibid.
[20] Sayyid Qutb, Tafsir…, 70.
[21] Quraish Shihab, Membumikan…, 158-162.
[22] Sayyid Qutb, Tafsir…, 71.
[23] Lihat Osman Bakar, Evolusi Ruhani: Kritik Perenialis atas Teori Darwin, (Bandung: Mizan, 1996), 9.
[24] Franz Dahler dan Julius Chandra, Asal dan Tujuan Manusia, (Yogyakarta: Kanisius, 1995), cet. ke-12. 21.
[25] Ibid.
[26] Maurice Bucaille, Asal-usul Manusia Menurut Bibel, Al-Qur’an Sains, (Bandung: Mizan, 1998), cet. Ke-12. 9-10. lih. Machnun Husein (penyunting), Asal-usul Manusia dalam Polemik, (Yogyakarta: Yogyakarta Offset, 1983), 3.
[27] Franz Dahler dan Julius Chandra, Asal…, 23. Maurice Bucaille, Asal-usul…, 40-42; 54-55.
[28] Ibid., hal. 23-24. Maurice Bucaille, Asal-usul…., 44-45.
[29] Judul lengkapnya adalah On The Origin of Species By Means of Natural Selection or The Favoured Races in The Struggle for life, London, 1859.
[30] Dinukil dari T. Jacob, “Beberapa Hal Pokok tentang Teori Evolusi” dalam Machnun Husein (penyunting), Asal-usul Manusia dalam Polemik, (Yogyakarta: Yogyakarta Offset, 1983), 219-220.
[31] Ibid., 24-28.
[32] Quraish Shihab, Wawasan…, 280-281.
[33]Muhammad Abduh (1849-1905) adalah tokoh pembaharu di Mesir. Abduh studi di Paris kemudian bergaul dengan Jamaluddin al-Afghani, lalu mendirikan gerakan politik keagamaan Urwatul Wutsqa dan menerbitkan majalah al-Manar (menara). Ia pernah menjabat sebagai dewan majlis agung Universitas al-Azhar. Lih. Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam (Ringkas), (terj. Ghufron A. Mas’adi), (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), cet. ke-3. 6. Sedangkan Mahmud Abbas al-Aqqad merupakan seorang ilmuan dan ulama Mesir. Pendapatnya tersebut di atas dikutip oleh Qurasih Shihab dalam bukunya yang berjudul al-Insan fi al-Qur’an. Lih. Quraish Shihab, Wawasan..., 281.
[34] Maurice Bucaille, Asal-usul…,  55.
[35] Lihat Franz Dahler dan Julius Chandra, Asal…, 28.

2 comments:

  1. Assalamualaikum wr.wb,

    Allah berfirman pada surat Al Baqarah ayat 30.
    Dan ingatlah tatkala Tuhanmu berkata kepada para Malaikat:’Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi . Mereka bekata:’Mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman:”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui ” (QS.Al-Baqarah: 30).

    saya ingin memberikan tanggapan sedikit mengenai asal-usul penciptaan manusia melalui firman Allah ini ,ayat demi ayat secara singkat.
    seperti kita ketahui bahawa kata khalifah merujuk kepada kepimpinan.
    Allah hendak menciptakan seorang pemimpin(khalifah) di muka bumi,tetapi para malaikat memperotes dengan mengatakan bahwa khalifah(pemimpin) tersebut akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi.
    apakah yg diketahui oleh para malaikat sehingga mereka memperotes?
    yaitu apabila Allah menciptakan seorang pemimpin di muka bumi, sudah tentu Allah hendak ingin menciptakan seorang makhluk yg nyata, yaitu makhluk yg dapat hidup di bumi dan dapat menikmati hasil usahanya sendiri dari bumi dan semua kebutuhannya dari bumi.
    makhluk ini sudah tentu mempunyai nafsu yaitu nafsu makan ,bekerja dan tentunya berkembang biak.Makhluk nyata ini(khalifah) sudah tentu sangat berbeda dengan para malaikat yg tidak mempunyai nafsu,tugas mereka hanya bertasbih,memuji dan mensucikan Allah saja,tetapi Allah telah mententeramkan kegelisahan mereka dengan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu keteahui”.

    Jadi apakah yg tidak diketahui oleh para malaikat?(lihatlah ayat 33, surat al baqarah dengan hurup besar).
    firman Allah Al Baqarah ayat 31
    Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar! ( Surat Al Baqarah Ayat 31)
    dan ayat 32.
    Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Surat Al Baqarah Ayat 32)

    Dengan kedua ayat ini sangat jelas bahwa Allah telah menciptakan seorang khalifah(pemimpin) yg berbentuk manusia yg sangat cerdas.

    Dengan ayat 33 pada surat Al Baqarah, firman Allah,
    Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “BUKANKAH SUDAH KU-KATAKAN KEPADAMU, BAHWA SESUNGGUHNYA AKU MENGETAHUI RAHASIA LANGIT DAN BUMI DAN MENGETAHUI APA YANG KAMU LAHIRKAN DAN APA YANG KAMU SEMBUNYIKAN?” (Surat Al Baqarah Ayat 33).

    Adam adalah khalifah(pemimpin ) seorang manusia pertama yg berakal cerdas.
    sebelum adam hanya ada tumbuhan dan hewan-hewan saja pada zamannya.
    mengenai teori darwin yg mengatakan bahwa manusia berasal dari monyet adalah tidak benar.

    Sebenarnya yg membuat kegelisahan para malaikat bukanlah perbuatan nabi adam dan siti Hawa yg akan merusak dan menumpahkan darah dimuka bumi Allah ini ,karena Allah menciptakan Adam secara langsung dengan kalimat(kun fayakun),Adam adalah seorang yg suci, tetapi yg membuat para malaikat gelisah adalah perbuatan yg akan di lakukan oleh keturunan adam dan hawa ini,seperti firman Allah pada surat as sajdah ayat 8. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.
    buktinya pembunuhan pertama telah dilakukan oleh anak nabi Adam dan Hawa.


    wassalamualaikum wr.wb,
    sayyid.

    ReplyDelete
  2. maaf surat al insaan ayat 2, bukan surat as sajdah ayat 8.

    sayyid

    ReplyDelete

coment after read! and comment with ethic!
habis baca jangan lupa comment! comment dengan etika

Recommended Videos

Loading...

Follow by Email | ikuti melalui email